Pages

4.22.2011

Karena Bumi Ini Hanya Satu

Happy Earth Day! = Happy My Blog Day! >_<
Wah, ga nyangka, ternyata peringatan hari bumi Internasional barengan sama peringatan 1st anniversarinya blog ini.
catet, INTERNASIONAL! woooow...

Hari Bumi, -yang diperingati hari ini (22 April) secara Internasional- "dilahirkan" oleh Gaylord Nelson, pengajar lingkungan hidup pada tahun 1970. Hari Bumi pertama menjadi awal terbentuknya United States Enviromental Protection Agency/US EPA (sebuah badang perlindungan lingkungan Amerika) dan juga sebagai langkah awal menuju lingkungan dengan udara dan air yang bersih, serta perlindungan terhadap makhluk hidup.
Sejarah Hari Bumi
Dalam rangka memperingati hari bumi ini, 92 negara bersiap-siap untuk mematikan lampu selama sejam saja dan mendukung penyelamatan lingkungan terhadap perubahan iklim.
Awalnya, Earth Hour ini merupakan inisiatif dari WWF dimulai pada 2007 di Sydney, Australia. Lalu, apa sih pentingnya kita gelap gelapan selama 1 jam?

Dengan mematikan lampu selama 1 jam ternyata dapat menghemat 267,3 ton CO2 dan menghemat lebih dari 267 pohon karena 1 pohon dapat menyerap 1 ton CO2 dalam 20 tahun masa hidupnya. Selain itu juga menyumbang persediaan O2 lebih dari 535 orang, karena 1 pohon dapat memberikan O2 bagi 2 orang dalam 20 tahun masa hidupnya.
ck ck ck.... manfaat hari bumi

Inilah satu tindakan kecil yang membawa perubahan besar.
bayangkan manfaat besar yang kita dapatkan dengan melaksanakan Earth Hour setiap hari!

Jim Rohn mengatakan "take care of your body. it's the only place you have to live".
aku akan berkata "jagalah bumi kita. karena itu adalah satu satunya tempat kita semua hidup.

Sudahkah kalian mulai mematikan lampu selama sejam hari ini?

2.08.2011

PLP, quota, dan pindah jalur

PLP, what is it?

PLP atau Program Latihan Profesi merupakan salah satu mata kuliah yang harus, wajib, kudu dikontrak sama mahasiswa yang mengambil konsentrasi di bidang pendidikan di UPI, Universitas Pendidikan Indonesia.
Bisa dibilang melalui program PLP ini kami (aku dan juga anak2 lain yang kuliah kependidikan) mengalami pelatihan profesional tenaga pendidik guru.
Lengkapnya bisa dibaca di Buku Pedoman Akademik, UPI :)

Akhirnya setelah 7 semester menempuh masa-masa kuliah yang menyenangkan dan penuh intrik, tibalah waktunya bagiku untuk mengalami yang namanya PLP.

Seperti juga tahun-tahun sebelumnya, di Prodi sudah tersedia list sekolah-sekolah yang menerima mahasiswa yang akan PLP. Begitu Ar, -salah satu personil ANZ- bilang listnya udah ada di Prodi, aku yang kebetulan ada di kampus langsung masuk ruang prodi dan mengisi namaku dan juga Ar (kita sudah berencana PLP di sekolah yang sama) di SMA Negeri 15 Bandung, sesuai rencanaku sejak jaman KKN, sesuai kesepakatanku sama Sidik a.k.a M.Shadow -personil KKN Sariwangi yang suka banget makan kangkung-.

Aku pun ga sabar menanti PLP dimulai..


Waktu pun berlalu dan sampai pada hari ini.
Berdasarkan informasi Vhe -cewek JupiterB yang aktif berorganisasi-, aku pergi ke BAAK untuk melihat pengumuman PLP. Di pengumuman itu tercantum nama-nama seluruh mahasiswa yang dikelompokkan berdasarkan sekolah tempat PLP, dosen tetap (dosen yang berasal dari prodi/jurusan masing2) dan dosen luar biasa (guru mata pelajaran di sekolah tersebut).

Aku langsung saja mencari list SMA Negeri 15 Bandung, panas2 berdesak2an di kerumunan orang. Begitu berhadapan dengan papan pengumuman a.k.a mading aku menelusuri list SMAN 15.
Di urutan pertama ada jurusan KIMIA, mataku langsung menemukan nama Anggia a.k.a Bundo -personil KKN Sariwangi yang sering masak-, yang setau aku juga daftar PLP di 15.
Langsung saja aku mencari namaku..
Tapi ternyata dan ternyata.., namaku ga ada! otomatis Ar juga ga ada.
Mau ada gimana, wong jurusan KOMPUTERnya aja ga ada di dalam list.. :(

Dengan kening berkerut aku cari namaku dari SMA Negeri 1 Bandung sampai ke TK (yah, meski ga mungkin sih ada PLP untuk jurusan KOMPUTER di TK), mungkin aja sama pihak kampus dipindahin karena suatu alasan. Tapi baik namaku maupun Ar tetep ga ada tuh..
Akhirnya setelah cape nyari dari ujung ke ujung dan bosan liat list PLP di SMAN 15 berkali2, aku pun sms Ar, ngajak dia untuk nanyain soal ini ke University Center (kantor untuk mengurus PLP memang ada di University Center lt.4)

Pukul 13.05
Aku dan Ar memasuki gedung University Center dan segera menuju lt.4. Waktu masuk ke dalam ruang kantor PLP, disana sudah ada beberapa mahasiswa lain. Dua orang mahasiswa diantaranya sedang berbicara dengan salah satu pegawai disana. Tanpa sengaja pembicaraan mereka mampir di telingaku. Dan ternyata mereka (dua mahasiswa itu) juga tidak menemukan nama mereka di SMAN 15. Penjelasan dari si ibunya sedikit tertangkap olehku.
Quota di SMAN 15 udah 36 mahasiswa dan ga bisa lebih dari itu. Jadi memang ada beberapa jurusan yang ga dapet tempat disana. Berarti sekarang mau ga mau, rela ga rela, kami harus pindah jalur ke sekolah lain.

Maka, aku pun berunding dengan Ar, sambil nunggu dua mahasiswa itu menyelesaikan urusannya.
Aku punya beberapa alternatif. Alternatif ini dipilih berdasarkan jarak dengan kampus dan waktu tempuh dari rumahku. Sekolah-sekolah alternatif itu adalah SMA Negeri 2 Bandung, SMP Negeri 15 Bandung, dan SMP Negeri 12 Bandung (alternatifnya hanya sekolah negeri). Dan akhirnya kami memilih pindah jalur ke SMP Negeri 15 Bandung. Kenapa?

Aku sengaja tidak memilih SMAN 2 karena Rie -adikku yang keliatannya pendiam- sekolah di sana. Aku rasa bakalan aneh banget kalo pagi2 aku pergi bareng adikku itu ke sekolah yang sama, dengan status aku guru dan dia murid. Sementara di rumah aku kakak dan dia adik. Aneh. Aneh. Aneh. ;p

Aku juga tidak memilih SMPN 12, karena arah ke sekolah itu sama dengan arah ke kampus. Setidaknya aku merasa bosan dan ingin mencoba jalur lain. Merasakan daerah lain. Tempat lain.

Makannya, sebenarnya SMAN 15 itu udah pas banget. Selain itu kalo di 15 kan sekalian mengingat kembali masa2 SMP aku (dulu SMPku di 26, daerah Sarijadi juga)

Apa boleh buat... :'(
Akhirnya kami pun sepakat memilih SMPN 15. Alasan pribadiku adalah SMP ini ga terlalu jauh dari kampus. Dan setidaknya, meski sedikit, ada perubahan arah pergi. Meski sama2 ke gerlong dulu, tapi dari gerlong arahnya ke bawah bukan ke atas (ke arah kampus). Apalagi di sebrangnya ada Borma Supermarket jadi kalo mau belanja gampang.. hehe :p
Trus kalo ke SMPN 15 kayanya ga terlalu melenceng banget. Toh sama2 15, cuma ganti SMA jadi SMP aja. *maksa

Lalu, setelah dua orang mahasiswa itu selesai bernegosiasi, kami pun menyampaikan masalah kami.
Ibunya langsung sibuk mencari-cari list mahasiswa PLP FPMIPA dari tumpukan2 kertas lainnya, diantara map2 lainnya. Keliatan sibuk banget.
Begitu listnya ketemu beliau membuka halaman yang memuat prodi KOMPUTER, menanyakan nama kami, lalu mencarinya di list.
Di list tersebut aku dan Ar memang terdaftar di SMAN 15, selain kami ternyata Egi -cowok JupiterB yang suka baca komik juga (kayak aku)-, juga daftar di sana.
Seperti yang sudah kuduga sebelumnya, kami memang ga dapet tempat di SMA itu. Penuh. Sampe sekarang aku ga ngerti juga kenapa bisa terjadi hal seperti itu. Kenapa banyak yang memilih SMAN 15? Hingga beberapa jurusan ga dapet tempat disana..

Ah! Satu hal menyenangkan yang aku rasakan begitu melihat list itu, dosen tetapnya Pak Yudi -dosen ilkom yang langsung jadi favorit aku sejak pertama kali ngajar-. Kalo dosennya ga dirubah meski kami pindah jalur ke sekolah lain bakalan asik banget, buat aku sih.

Finally, beliau bilang akan memindahkan kami ke sekolah lain. Aku pikir kayanya asik juga kalo ditentukan sama ibunya. Aku ga tau dimana aku akan di tempatkan, rasanya mungkin seperti membuka kotak harta yang kita ga tau apa isinya. Perasaan itu pun hanya terlintas sesaat,
karena selanjutnya Ar bilang "Kalo kita yang milih tempatnya bisa ga Bu?"
Ibunya bilang "Sok mau dimana?"
Ar memandangku meminta persetujuan, aku memberikan sinyal persetujuan dan berkata
"SMP 15"
Ibunya lalu membuka halaman SMPN 15, mengecek ketersediaan tempat di sekolah tersebut.

Yah begitulah, akhirnya kami PLP di SMP Negeri 15 Bandung (tentunya hal ini pun sudah aku sampaikan pada Egi via sms). Yang artinya, aku juga harus mengulang persepsi aku, imajinasi aku, dan lain-lain aku.
Bye bye.. SMAN 15, aku tak jadi bertualang di tempatmu.

Haha.. :D
Sedikit banyak pengalaman hari ini memberitahuku beberapa hal.
Meski hal seperti ini membuat kita merasa repot. Pihak administrasi yang mengurus hal ini jauh lebih repot karena selain harus mengurus surat menyurat, juga harus mengurus mahasiswa yang mau pindah jalur dan juga, seperti kasusku, yang ga kebagian tempat, belum lagi kasus-kasus lain. Uwaaah!
Lalu, meski semua hal tak berjalan sesuai rencana, akan lebih baik jika tidak menyesalinya dan terus melangkah maju. Lihat dan pastikan, sekalipun tidak sesuai rencana bukan berarti itu buruk. Siapa tau malah jauh lebih baik.
Toh semuanya sudah ada yang merencanakan. Sudah ada yang membuat dan memiliki skenarionya.
Yang perlu dilakukan adalah menjalani semuanya dengan pikiran positif.

power up!! \(^^)/

11.22.2010

Ketika Umurmu Bertambah

waktu selalu berlalu begitu cepat, tanpa disadari setahun telah lewat hingga akhirnya hari ini tiba..
hari saat umur hidup bertambah..

happy birthday to me.. >_<

tak bisa disangkal bahwa hari ulang tahun adalah hari yang spesial, karena hanya di hari ini banyak orang yang kukenal memberikan senyumnya disertai ucapan selamat yang pastinya memberi sejuta kebahagiaan.

meski kini umurku telah bertambah lagi, rasanya tak begitu banyak perubahan yang kurasakan..
aku masih tetap sekanak-kanak dulu..

meski angka yang bertambah dalam umurku menjerit-jerit menuntut kedewasaan, diriku masih tetap ingin seperti ini, seperti apa adanya aku..
tak peduli pandangan orang-orang lain yang menganggapku tak sedewasa umurku..

karena itu, kupikir "sekalipun umurmu bertambah, bukan berarti kau tiba-tiba menjadi dewasa"

sementara hari demi hari umurku semakin lanjut, prosesku menuju kedewasaan tak secepat peningkatan umurku..

untuk menjadi dewasa itu memang butuh proses yang mungkin panjang, namun pasti perubahan itu ada..

I grew up a little more key
Yearning for a little more grown up
Thick and a little more grown up
Grew up a little more distance
[Delight - Happy Birthday to Me]

-aku yang sedang menjadi dewasa-

7.02.2010

Case #1 >> Kebenaran De Javu

Apa itu de javu?

De javu adalah kondisi ketika kita dihadapi pada suatu kejadian kita merasa pernah mengalami kejadian tersebut.

Apa kalian pernah mengalaminya? Atau bahkan sering?

Aku pernah.

Tapi, ternyata de javu bukanlah hanya sekedar kita merasa mengalami kejadian tertentu saja, ada kenyataan lain tentang mengapa kita mengalami de javu. Hal yang baru juga kuketahui melalui pembicaraanku dengan seorang sahabat.

Suatu hari, tak terlalu berbeda dengan hari-hari lainnya, aku berjalan pulang bersama sahabatku ini. Pembicaraan yang kami lakukan saat itu pun hanyalah cerita-cerita tentang pengalaman hari itu. Namun, tiba-tiba saja di tengah pembicaraan ia berkata

“Duh, de javu nih..”

Sepertinya ia merasa pernah mengalami kejadian yang terjadi saat itu. Aku hanya tersenyum.

“Gawat, otak gw mulai rusak!” lanjutnya.

Saat itu aku merasa kaget sekaligus geli. “Emangnya de javu itu pertanda otak rusak?!” tanyaku dengan nada bercanda.

“Iya!” jawab sahabatku itu dengan tegas. Aku yang sama sekali tak menduga otomatis terkejut.

“Eh? Serius?!” tanyaku tak percaya.

“Iya, jadi de javu itu bla bla bla bla bla bla...” jelasnya panjang lebar.

Nah, jadi apakah sebenarnya penyebab de javu itu??

Seorang ilmuwan Jepang –Susumu Tonegawa- yang juga merupakan seorang neuroscientist MIT, melakukan eksperimen yang berkaitan dengan de javu pada tikus. Melalui penelitiannya ia membandingkan ingatan pribadi dengan ingatan baru yang tercatat dalam dentate gyrus. Ternyata, tikus yang dentate gyrusnya tidak berfungsi normal akan mengalami kesulitan dalam membedakan dua kondisi yang serupa tapi tak sama. Itulah mengapa, pengalaman de javu meningkat seiring bertambahnya usia ataupun hadirnya penyakit degeneratif seperti Alzheimer. Kehilangan atau rusaknya sel-sel pada dentate gyrus akibat kedua hal tersebut membuat kita sulit menentukan apakah sesuatu itu lama atau baru.

(sumber : matabumi)

Sementara itu, Robert Efron berpendapat bahwa de javu disebabkan oleh respon syaraf yang melambat. Hal ini bisa terjadi karena informasi yang masuk ke pusat informasi di otak melewati lebih dari satu jalur. Lobus Temporal dari bagian otak kiri bertanggung jawab untuk menyortir informasi yang masuk. Selain itu, Lobus Temporal menerima informasi yang masuk dua kali dengan sedikit delay antara dua transmisi tersebut.

(sumber : enigma)

--Informasi yang masuk pertama kali langsung menuju Lobus Temporal, sedangkan yang kedua kali mengambil jalan berputar melewati otak sebelah kanan terlebih dahulu—

Jika delay yang terjadi sedikit lebih lama dari biasanya, maka otak akan memberikan catatan waktu yang salah atas informasi tersebut dengan menganggap informasi tersebut sebagai memori masa lalu.

Wah, ternyata gitu toh proses terjadinya de javu.

Sedikit surprise juga nih.. :p

Ternyata ada alasan yang benar-benar ilmiah mengenai de javu.

6.09.2010

Nilai VS Kemampuan

Uwaa~

Ga kerasa udah waktunya UAS. Musim UAS bersemi dengan indahnya.. >_<

Saatnya menguji kemampuan kita setelah melewati satu semester yang panjang. Hohoho!

Pastinya tiap orang sibuk mempersiapkan diri menghadapi ujian akhir ini. Ada yang sibuk baca-baca materi dari dosen, ada juga yang malah sibuk cari tips nyontek ampuh biar ga ketahuan pengawas ujian. Hihi..

Hem..., tapi tau ga sih?

Sebenarnya, hal yang terpenting dengan adanya ujian akhir semester ini adalah menguji sejauh mana kemampuan kita. Namun, sadar atau tidak, ujian jadi ajang untuk mengejar nilai. Dan demi nilai itu, seseorang akan melakukan cara apapun, dan cara-cara itu bisa saja curang.

Aku bilang begini bukan berarti aku tak pernah melakukan cara curang. Lho??

Hanya saja, sekarang ini aku pikir tak ada gunanya aku melakukan cara curang untuk mendapatkan sebuah nilai. That was useless.

Pada akhirnya aku sadar, ketika aku mendapatkan nilai A (misalnya saja), itu bukanlah hasil dari kemampuanku yang sebenarnya. Dan ada rasa tidak puas ketika aku menyadarinya. Nilaiku adalah kemampuan orang lain. Ingin bangga pun jadi tak bisa.

:: Ada sebuah kisah, di saat UTS.

Soal UTS kali itu dibuat seperti mengisi titik-titik yang kosong (jadi inget zaman esde dulu). Lalu di pertanyaan terakhir tertulis

‘Saya menjawab semua pertanyaan ini dengan _________ (jujur/tidak jujur) dan saya memastikan bahwa seluruh jawaban adalah hasil kerja keras saya __________ (sendiri/orang lain/tidak ada kontribusi saya sama sekali).’

Dan untuk jawaban soal tersebut akan diberi nilai 25 (jika jujur dan hasil kerja sendiri).

Lalu, saat pengumuman hasil UTS tersebut, sang asdos mengumumkan bahwa nilai terendah adalah 25.

Awalnya aku tak sadar, tapi ketika aku meneliti hasil ujianku sendiri, jika nilainya 25 berarti orang itu (yang sampai sekarang tak diketahui siapa) hanya menjawab pertanyaan terakhir saja.

Suara hatiku hanya bisa berkata “Cool” Aku pun tersenyum penuh arti.

(Tak mungkin seseorang akan mendapatkan nilai hanya 25 selain dari pertanyaan terakhir itu)

Dan untuk siapapun dia, aku akan mengacungkan semua ibu jari yang bisa kuacungkan. ::

Makannya, aku yang sudah kembali ke jalan yang lurus ini memutuskan untuk mulai berjuang dengan kemampuan sendiri. Percaya dengan kemampuan yang telah aku dapatkan melalui sebuah perjuangan.

Meskipun saat ujian aku akan mengalami rintangan-rintangan dalam memecahkan soal-soal yang hadir di hadapanku, tapi jika aku tetap pada pendirianku untuk tidak melakukan kecurangan, maka ketika akhirnya sang nilai yang keluar bukanlah si A sekalipun aku akan merasa cukup puas tapi juga cukup tidak puas.

“Jadilah cukup tidak puas agar kau mau melakukan yang lebih baik lagi, tetapi cukup puas agar kau bisa bersyukur dan berterimakasih” –Camar indonesia -

Aku sudah berjuang dan berusaha dengan kemampuanku sendiri, itu yang terpenting.

Teringat dengan perkataan seorang dosen. “Kalian ga usah memikirkan soal nilai, yang penting saya ingin kalian bisa!”

(Kurang lebih seperti itulah, aku tak ingat apa yang secara spesifik dikatakan beliau.)

Yang jelas, aku dapat mengambil kesimpulan bahwa : percuma dapat nilai bagus jika kemampuan nol.

Maka dari itu, jika kita merasa kemampuan kita kurang dan hal itu membuat kita jadi merasa tidak percaya pada kemampuan diri sendiri. Belajarlah! Asah terus kemampuanmu. Jika kita menghadapi jalan buntu dan tak tahu langkah apa lagi yang harus kita lakukan untuk mengupgrade kemampuan kita, buatlah jalan lain. Kita bisa tanya teman, senior, dosen, dan bahkan orang lain yang sekiranya menurut kita mampu membantu kita. Jangan patah semangat kawan...

Terakhir, jangan lupa berdo’a. Semoga kita diberi kemudahan oleh Allah. Amin.. ^-^

Ganbatte~ minna! You can! I can! We can!

Aku bisa

Aku mampu

Menjadi terbaik yang ku mau

Hanyalah sekali saja

Mengapa menyentuh kau sia-sia

Kutahu kini, saat yang pasti

Aku kan mengejar matahari

Derita yang kualami dahulu

Tak mungkin menghambat angan citaku

Kusambut hari tempat ku nanti

Bagai cahaya meniti pelangi

Aku bisa

Dan aku mau

Warnai hidupku kian berani

Tak ada hari tanpa memperbaiki diri

Kuingin menunjukkan yang terbaik

Dariku...

(Vidi Aldiano – Aku Bisa)

Semangat penuh untuk menghadapi UAS...!! \(^-^)/

5.05.2010

Cantik itu, bahagia jadi diri sendiri

Aku tersentak ketika mendengar kalimat yang kudengar dari iklan sebuah sabun kecantikan. Banyak orang yang selalu ingin tampil cantik. Cantik fisik tentunya. Otomatis yang terbayang adalah kulit putih dan mulus, hidung mancung, bibir tipis, serta bulu mata yang lentik. Demi hal itu, banyak sekali cara yang mereka lakukan untuk menjadi cantik dengan biaya yang tak murah.

Dengan statement di atas, rasanya jadi menyadarkanku. Bahwa cantik itu tak hanya sebatas fisik. Tetapi, kita bisa menjadi cantik dengan merasa bahagia. Karena perasaan bahagia membuat kita memancarkan aura kecantikan dari dalam.

Lalu, bagaimana agar kita merasa bahagia dengan diri sendiri?

Tak ada manusia yang sempurna, karena itu setiap orang pastinya memiliki kelebihan sekaligus kekurangan. Meski terkadang kita merasa iri terhadap orang lain, lalu membanding-bandingkan diri kita dengan orang lain yang pada akhirnya membuat kita menjadi tak percaya diri *hal yang terkadang kualami*.

“Ingatlah, yang namanya daya tarik itu pasti berbeda untuk setiap orang. Tiap orang punya daya tariknya masing-masing, makanya tidak ada perlunya membanding-bandingkan dan memang tidak bisa dibanding-bandingkan kok.” (Mori Etoh, Throbbing Tonight - a comic by Koi Ikeno *dengan sedikit perubahan*).

Bahagia menjadi diri sendiri itu, ketika kita bukan hanya menyukai segala kelebihan kita tapi juga kita menerima segala kekurangan kita. Dan bukannya menyesali apa yang tidak kita miliki, melainkan mensyukuri apa yang kita miliki.


Menjadi diriku

Dengan segala kekurangan

Menjadi diriku

Atas kelebihanku

Terimalah aku seperti apa adanya

Aku hanya insan biasa tak mungkin sempurna

Tetap kubangga atas apa yang kupunya

Setiap waktu kunikmati

Anugrah hidup yang kumiliki

(edcoustic - Menjadi Diriku)

4.22.2010

Minnasan~ yoroshiku onegaishimasu! >_<

Jibun de suru koto sarani wa dare de mo nai
be yourself even you're nobody

Atas dasar itulah blog ini di buat.

Dengan memanfaatkan blog dan sedikit bakat menulis *ehem...*
akhirnya aku memutuskan untuk membuatnya!

Diiringi harapan tulisan-tulisanku bisa memberi inspirasi bagi yang membacanya.
Hopefully...!

Tentunya tak lepas dari keinginanku untuk terus menjadi diri sendiri.
Yups.., LET'S GO BLOG! \(^_^)/

About Me

My photo
cat lover, japan addict, spy girl, paparazzi, the nocturnal, plegmatis, book eater, newbie teacher, single happy, travel writer wannabe;