Pages

Showing posts with label kehidupan. Show all posts
Showing posts with label kehidupan. Show all posts

11.24.2015

Surprise, Sweet Moment, and Gratitude

Bagiku satu tahun ini menjadi satu tahun yang begitu cepet berlalu sekaligus lambat.

Setahun sudah aku tidak mengisi blog dengan ungkapan ide atau curahan hati atau bahkan sekedar ungkapan kata. Dan kini (22 nov 2015) usiaku sudah bertambah satu lagi. Ucapan dan doa dari orang-orang terkasih, keluarga, saudara, sahabat, teman, dan mungkin hanya sekedar kenalan sudah cukup menjadi rasa syukur atas keeempatan yang masih diberikan-Nya untuk merasai udara yang mengisi napasku, memijak tanah yang menghidupi langkahku, dan memandang langit yang menaungi hatiku.

Maka, benar-benar tak kusangka akan mendapat kejutan-kejutan berharga hari ini (23 nov 2015).

Kejutan-kejutan sederhana namun terasa manis.

Karenanya berjuta terima kasih kuucapkan untuk :

Natalis, atas hadiah kecil dengan kehangatan yang besar,
 

Nita dan Ririn, atas kue manis yang akan menjadikannya kenangan yang jauh lebih manis,


teman-teman TP B (Sella, Erni, Zizah, Dwi, Adrie, Randy, Andri, Galih, Fakih, Haris, Alwan, Ence, Zia, Pak Wid, Mas Toto, Air) atas ucapan, kemeriahan, dan doanya, kebersamaan kita akan selalu kurindukan.


Satu hal yang kurenungkan untuk tahun ini.

Setahun sekali seseorang selalu merayakan hari lahirnya atau setidaknya menganggap hari itu sebagai hari yang spesial. Namun seringkali kita lupa bahwa setiap hari umur kita bertambah, bahkan tiap detknya dan seringkali kita lupa, setiap umur kita bertambah maka waktu hidup kita pun sebenarnya semakin berkurang.

Untuk mengingat hal itu, jangan lupa bersyukur atas apa yang kita terima hari ini dan apa yang telah diberikanNya sepanjang hidup kita.

Bersyukur dan berbahagialah. Alhamdulillah :3


抜き猫

11.22.2014

Being 25

Tahun berlalu begitu cepat, rasanya baru kemaren saya berusia 20.
Seiring waktu, apa yang saya lalui beberapa tahun ini memberikan banyak perubahan dalam diri saya.
Dulu saya begitu ingin dianggap sebagai seseorang yang dewasa, namun mencapai usia 25 ini saya lebih mementingkan untuk berkembang menjadi seseorang yang lebih baik.
Semasa remaja, saya punya target yang akan saya capai di usia 25, seperti menikah misalnya. :D
Tapi ternyata, seiring waktu setiap momen dalam hidup kita tak bisa dipaksakan.
Selalu ada waktu yang tepat untuk setiap hal yang terjadi atau belum terjadi dan ada makna yang bisa kita ambil dari hal-hal tersebut.


I'm 25 now.
And it is weird to say what I feel.

Getting older, but feeling younger. :3



See these photos below

[ menjelang 20]

        
                                                         
                                                                                                                                         [menjelang 25] 

















Padahal selang 5 tahun, tapi ngga jauh beda ternyata. Heheh ^^Y




ー 抜き猫

9.16.2013

CPD dan Shikat Miring!

Sebelum kita masuk ke inti cerita, rasanya perlu saya jelasin dikit tentang CPD dan "Shikat Miring!".
CPD merupakan singkatan dari Camping Pendidikan Dasar, yang merupakan bagian dari kegiatan orientasi siswa yang biasa disebut MOS (buat yang se-zaman sama saya), atau kalau disesuaikan dengan zaman sekarang bisa disebut MOPD (Masa Orientasi Peserta Didik) atau MPLS (Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah). Nah, kegiatan CPD ini baru saja diselenggarakan minggu lalu di sekolah tempat saya bekerja, dimana acaranya diselenggarakan malam hari.
Lalu, apa itu "Shikat Miring!"? Buat yang baru denger mungkin dari namanya saja sudah terdengar aneh, belum lagi dengan penambahan huruf 'h' diantara 's' dan 'i'. Nah, kalo untuk soal yang satu ini kayanya Mas Danang sama Mas Darto lebih tau. Jadi silakan nonton (atau youtubing) aja The Comment di Net Tv. :D
Caution! : Ada baiknya kalian tau dulu apa itu Shikat Miring sebelum membaca tulisan di bawah ini. Supaya lebih 'ngena' gitu.

Ok. Jadi cerita ini dimulai minggu lalu, pada suatu sore yang cerah (kalo ngga mau disebut panas).
Sesuai dengan yang telah direncanakan, kami para panitia CPD (terdiri dari anggota OSIS dan guru muda *ehem) bersiap-siap untuk pergi ke lokasi. Saya yang tahun lalu jadi tim medis, sama sekali ngga nyangka sekarang diminta untuk jagain pos. Buat yang pernah ngalamin CPD atau Pelantikan Anggota pasti ada kan kegiatan malem-malem yang keliling dari satu pos ke satu pos lain buat ngelaksanain misi?
Nah, saya diminta sama salah satu anggota OSIS untuk jaga di Pos 1 bareng sama dua orang anggota OSIS, sebut saja A dan R (belum ada izin untuk mempublikasikan nama),  yang bikin saya agak kaget karena udah berasumsi cuma bakalan jadi tim medis aja.

Singkatnya, kami tiba di tempat perkemahan yang jaraknya tak begitu jauh dari sekolah.
Malam pun menjelang. Setelah makan malam, R, salah satu anggota OSIS yang sama-sama jagain pos 1 bareng saya ngajak diskusi soal pertanyaan yang nanti akan diberikan dan hukumannya kalau mereka ngga bisa jawab.
Pertanyaan selesai dibahas, dan untuk hukuman R menyarankan untuk jalan bebek sambil nyanyi Potong Bebek Angsa, yang menurut saya agak kurang 'wah'. Awalnya terbersit sebuah ide dalam kepala saya untuk memberikan hukuman 'Goyang Caesar' yang populer waktu Ramadhan kemarin. Tapi karena saya sendiri tidak tahu seperti apa bentuk goyang tersebut (karena hanya mendengar cerita dari sepupu saya yang selalu nonton acara itu pas sahur), jadinya ide itu saya cancel.
Mendadak, entah datang darimana dan bagaimana, "Shikat Miring!" tiba-tiba saja muncul dalam benak saya. Sebelum saya sempat memproses ataupun memikirkan kembali ide tersebut, mulut saya langsung saja melontarkan ide untuk memberikan hukuman berupa "Shikat Miring!" pada R, yang diluar dugaan, merespon ide itu dengan terlalu baik.
Dengan semangat 45 dia memanggil A yang kebetulan banget tau tentang "Shikat Miring!". Saat itu saya merasa telah salah bicara. Oh Noooo~

Karena sudah terlanjur basah, akhirnya saya malah ikut semangat ngebahas rencana tersebut. Kami bahkan merencanakan latihan singkat "Shikat Miring!" saat pengecekan lokasi pos. Sayangnya latihan tersebut terpaksa dibatalkan karena kami cek lokasi pos rame-rame sama penjaga pos lain. Jadinya kami hanya berlatih dialog "Shikat Miring!" di rumah kecil tempat para panitia berkumpul.

Finally, pertunjukan dimulai!
Sekitar jam 11 malam kami sudah berjaga di pos. Posnya berupa saung kecil di dekat sawah, di dalam hutan yang dikelilingi pohon. Ditemani sebatang lilin yang berpendar dan keripik kentang rasa balado, kami latihan "Shikat Miring!" kecil-kecilan yang membuat kami bertiga tak hentinya tertawa karena segala kekonyolan "Shikat Miring!" ini. Ide siapa sih ini?



Oke, saya yang ngasih ide.

Menit demi menit berlalu dan belum ada satupun kelompok peserta yang muncul (satu kelompok terdiri dari 6-9 orang). Sambil menunggu, saya merebahkan diri di saung, merasakan dinginnya udara di tengah alam yang pada akhirnya membuat saya tertidur.

1 jam kemudian, saya dibangunkan karena tanda-tanda kelompok peserta pertama sudah terlihat.
Saya berdiri dan bertanya-tanya dalam hati, Benarkah saya harus melakukan ini?. Meski merasa ini memalukan, tapi keinginan saya untuk membuat hukumannya 'menarik' akhirnya memantapkan keinginan saya untuk meneruskan misi ini.
The show must go on, guys~

Kelompok peserta pertama tiba di hadapan kami.
Akhirnya, setelah melontarkan beberapa pertanyaan dan dijawab dengan kurang memuaskan, hukuman "Shikat Miring!" pertama pun dijatuhkan. Herannya, tak ada satu orang pun yang tahu 'tarian' ini. Jadi, saya, R, dan A memperagakan gerakan-gerakan ini satu kali dan nantinya harus dicontoh oleh mereka. Berikut langkah-langkah melakukan "Shikat Miring!" versi kami :
Pertama, satukan kedua telapak tangan (seperti posisi memberi salam) dan letakkan di depan dada, lalu ucapkan "Pertama niatkan, kalau belum sanggup ya sanggupin!" sambil mengepalkan kedua tangan dan menariknya seperti mengatakan "Yes!"
Berikutnya ucapkan "Kalau udah sanggup langsung di sundul sayang~," (menggerakkan kepala seperti menyundul bola ke arah kanan). "Kecup manja...," (menggerakkan kepala ke kiri dan memajukan bibir seperti ingin mencium disertai suara kecupan, mmuah~).
Langsung ucapkan, "Iris tipiiiiis," (menggerakkan lengan kanan dibawah lengan kiri seperti mem-fillet ikan). "Potong maniiiiis," (menggerakkan tangan kanan diatas lengan kiri seperti memotong buncis).
Terakhir, rentangkan kedua lengan dan tekuk kaki kiri ke depan lalu ucapkan "Shikat Miring!"

Uhuk. Selesai menulis tutorial barusan saya masih merasa malu. Bangeeeet.
Tidaaak, apa yang saya lakukaaan? *gali lubang dan sembunyi.

Peserta berikutnya dan berikutnya dan berikutnya lagi datang, hukuman "Shikat Miring!" pun dijatuhkan bertubi-tubi, membuat saya menggali lubang imajinasi semakin dalam. Peserta terakhir akhirnya berlalu dan saya merasa seperti kepiting rebus.
Kembali ke rumah kecil kami, menertawakan kekonyolan yang baru saja kami lakukan sembari menunggu para peserta kembali. Topik "Shikat Miring!", entah bagaimana menjadi populer. Hingga membuat salah seorang guru yang belum tahu langsung mencarinya saat itu juga melalui youtube. Sampai para peserta membahasnya bahkan setelah kembali ke lokasi kemping. Dan bahkan masih tetap populer hingga saat tulisan ini saya buat, mungkin hingga esok, minggu depan, bulan depan, dan bisa jadi, tahun depan.

Beberapa anggota OSIS yang tahu tentang pertunjukan"Shikat Miring!" yang kami lakukan di pos 1 dan tidak tahu bagaimana 'wujudnya', bahkan sampai meminta saya untuk menunjukkan 'tarian' itu pada mereka. Saya katakan bahwa itu adalah pertunjukkan spesial kemping. No. More.

Saat ini saya masih heran dengan kenekatan saya sendiri dalam melakukan pertunjukkan itu. Saya yang beberapa waktu lalu malu berat hanya karena dihukum nyanyi lagu Potong Bebek Angsa dengan huruf vokal 'a' (jadi Patang Babak Angsa) di suatu acara, kok ya bisa-bisanya menunjukkan 'tarian' "Shikat Miring!", depan murid-murid pula. Hahaha. ;p
Sebelumnya, saya belum pernah sekalipun se-ekspresif ini. Apa ini efek training #Xpressive yang terlambat?

Walaupun saya jelas-jelas masih merasa malu dan ketawa konyol kalau ada yang mengangkat topik itu ataupun teringat pertunjukan itu, tapi saya berpikir, kalau semua itu membuat saya sadar bahwa saya pun bisa se-ekspresif itu. Bukankah itu bagus? Bukankah itu artinya sebuah kemajuan, sebuah perubahan kecil yang nantinya akan berdampak besar? Who knows.


- Saya yang masih bertanya-tanya kenapa menuliskan cerita ini dan mempermalukan diri sendiri -
抜き猫

4.09.2013

Karena Terbiasa...

Memang cinta itu datang karena terbiasa, itulah fitrahnya.  [@felixsiauw]

Awalnya terbiasa melihat
Lalu terbiasa bertemu
Jadi terbiasa berdekatan
Terus terbiasa mengobrol
Lama-lama terbiasa jalan bareng

Saat sendirian terbiasa membayangkannya
Mencari tahu tentangnya
Membaca tentangnya
Mendengar tentangnya
Tidak mengherankan bila perasaan itu semakin menguat.

Cinta datang tiba-tiba~ (siapa bilang?)
Orang Jawa bilang witing tresno jalaran soko kulino.
Ya itu tadi, cinta datang karena telah terbiasa.

Pada dasarnya, perasaan itu akan menguat bila diberi rangsangan secara terus-menerus, berkelanjutan. Kalau mau dibikin lemah bahkan dibikin hilang, ya jangan diberi rangsangan.
Sama kaya tanaman yang akan tumbuh dan berkembang jika diberi pupuk dan disirami, ia akan layu jika tidak diberi nutrisi (si pupuk dan si air tadi).

Kalau mau dihilangkan, ya Biasakan !!

Biasakan tidak jalan bareng
Biasakan tidak sering mengobrol
Biasakan tidak sering berdekatan
Biasakan tidak sering bertemu
Biasakan tidak sering melihat
(Apalagi kalo ga perlu-perlu amat)

Biasakan tidak mendengar tentangnya
Biasakan tidak membaca tentangnya
Biasakan tidak mencari tahu tentangnya
Biasakan tidak membayang-bayangkan sosoknya
(Masih banyak hal lain yang lebih bermanfaat kok :) )

Melepaskan perasaan itu bukanlah hal yang mudah, karena memang ada kenikmatan tersendiri saat tenggelam di dalamnya.

In the end, it's a choice.
Terus tenggelam dalam kegalauan atau keluar dari sana dan merasakan kenikmatan yang jauh lebih besar dengan melakukan hal-hal yang positif.


So, it's not being blue is another kind of beauty
but being lonely because of Allah is another kind of beauty. :')

抜き猫

11.22.2012

Menjadi 'Tua' ≠ Menjadi Dewasa

"Tua itu pasti. Dewasa itu pilihan."
Seperti yang acapkali dikatakan oleh sahabatku itu, bertambahnya umur tak selalu berarti bertambah dewasa.
Andaikan saja umur yang semakin bertambah disertai dengan kedewasaan yang juga bertambah, tentu rasanya tak akan sesulit ini.
Memasuki usia 23 rasanya aku ingin kembali ke masa kanak-kanak, ke masa dimana sepertinya aku tak memikirkan apapun kecuali sekolah dan bermain.
Memasuki usia 23, apalagi ditambah dengan sebuah titel sarjana, bagaikan memasuki dunia nyata.
Dimana aku seharusnya sanggup berpijak dengan kedua kakiku sendiri.

Namun faktanya, meski sudah memasuki usia 23 sedikit sekali perubahan kedewasaan yang terjadi pada diriku.

Menjadi dewasa (salah satunya) berarti menjadi lebih bertanggungjawab.
Sementara, seringkali aku lalai akan kewajibanku. Tak jarang pula aku menunda sesuatu hanya karena malas. Atau 'melarikan diri' dari apa yang seharusnya kuhadapi.

Memasuki usia 23, aku tahu bahwa diriku masih jauh dari sosok seseorang yang bisa disebut dewasa.
Aku merasa timpang. Karena, sungguh, aku masih ingin menjadi kanak-kanak sementara waktu terus berjalan -berlari bahkan-, tanpa kompromi.

Seperti yang tadi sudah kusebut, dewasa itu pilihan.
Dan untuk menjadi dewasa diperlukan perubahan.
Dan untuk berubah diperlukan kesadaran.

Kini, aku bediri di jalan yang penuh kebimbangan.
Sadar namun belum ingin berubah.
Tapi kalau tak mau berubah, sampai kapan aku akan ada disini?
Mempertanyakan kebimbanganku sendiri.

Andaikan saja umur yang semakin bertambah disertai dengan kedewasaan yang juga bertambah, tentu tulisan ini tak akan ada.

6.18.2011

Insting VS Keselamatan

Wow, hari ini aku mengalami kejadian yang sangat langka [jarang terjadi menurut versiku].

Tadi sore menjelang malam, saat aku beserta dua adikku pulang dari rumah kakek aku dalam rangka merayakan ulang tahun Yo -anak dari adik ibu aku- yang ke-8 yang berada di kawasan cisitu lama, aku menyaksikan dua orang berkelahi sambil memaki-maki.

Awalnya aku santai santai aja diem di dalem angkot caheum-ledeng yang lagi ngetem di jalan siliwangi, sesekali ketawa ketawa bareng adik adik aku -Thi dan La-. Waktu lagi bercanda bercandaan aku liat para penumpang lain udah pada mulai gelisah kaya cacing kepanasan, meski udara malem di Bandung lagi dingin dinginnya.
Biasalah, angkot ngetem kan bisa bikin siapa aja jadi mendidih.

La -adik aku yang paling kecil [10 years old]- tiba tiba bilang "supirnya kemana ya ka? ko ga ada?"
Serta merta aku langsung liat ke bangku supir. Eh, iya ga ada.. :D baru nyadar. Kalo La ga bilang kayanya aku ga bakalan sadar sadar deh..

Terus, dengan insting detektif aku melacak keberadaan si supir yang menghilang. Aku membalikkan badanku dan menatap ke luar jendela, memandangi bahu jalan yang gelap karena dipenuhi pepohonan.

Saat itulah aku menyaksikan dua orang pria, yang satu pria paruh baya yang sudah beruban dengan topi berwarna coklat terpasang di kepalanya, yang satu lagi pria berambut panjang berusia sekitar tiga puluhan -salah satu dari mereka sepertinya si supir yang menghilang-. Si bapa dengan topi coklat entah kenapa terus memaki dan mendorong si pria berambut panjang.
Menurut dugaanku mereka mempeributkan masalah perangkotan, yang ga terlalu aku mengerti.
Berkali-kali bapa itu mengucapkan kata kata yang tidak pantas didengar anak anak. Err.. sebenernya itu kata yang sama sekali ga pantas untuk diucapkan..
Melihat adegan dorong mendorong dan pertengkaran sengit itu membangkitkan insting fotografiku yang telah lama terdiam. Rasanya dalam hatiku ada sesuatu yang meletup letup.

Dengan pelan aku berbisik pada La yang duduk di sebelahku "pengen banget foto adegan itu.."
Kebetulan banget hari ini aku bawa kamera.
Tanganku udah gatel aja pengen motret kejadian itu.
Kalo bisa ngerekam di video bakalan lebih bagus kali ya... XD

Penumpang penumpang lain yang udah mulai menyadari pertengkaran di bahu jalan itu berubah cemas, apalagi saat si bapa bertopi coklat semakin bertindak kasar dan bahkan mendorong si pria berambut panjang agak ke tengah jalan, nyaris saja tertabrak mobil. Untung saat itu jalanan macet sehingga mobil dan kendaraan kendaraan lain merayap lambat.

Ugh. Aku jadi berpikir ulang. Aman ga nih kalo aku foto foto?
Takutnya ntar malah dibentak-bentak, mana si bapa bertopi coklat itu serem banget lagi.
Hng.. aku pun langsung terlibat dalam dilema.

Habisnya aku kan lagi ga sendirian, kalo adik aku ikut ikutan kena getahnya bahaya tuh.
Meski sebenernya aku sendirian juga belum tentu jadi sih motretnya.. hehee :p

Sementara aku terlibat dalam dilema, penumpang lain mulai turun dan berpikir untuk mencari angkot lain. Secara gitu ya, angkot caheum-ledeng sih pasti masih banyak di belakang sana..
Beda sama angkot cimahi-ledeng yang terbatas, yang ngetemnya satu-satu. *curcol
Terus tiba-tiba dari luar terdengar teriakan "tahan! tahan!"
Aku panik, kirain si orang itu ngejar ngejar penumpang yang turun angkot biar ga naik angkot lain, makin serem aja deh.

Aku yang belum sepenuhnya lepas dari dilema ga nyadar kalo penumpang lain yang masih tersisa di dalem angkot pada ikutan turun, sampe akhirnya Thi ngajakin turun dari angkot.
Aku langsung menyusul begitu La turun. Suasana saat itu terasa begitu panik.
La tau tau lari menyusul Thi yang sudah berjalan duluan, di pinggir jalan, di antara penumpang lain yang sama paniknya. Aku langsung teriak "jangan lari lari, bahaya!"
Was was banget kalo tau tau ada mobil nyerempet. Fuuuih~

Nah, begitu aku serta Thi dan La berada dalam posisi aman di dalem angkot caheum-ledeng yang baru, aku langsung ketawa ketawa.
Ah~ kapan lagi coba aku bisa liat orang berantem.
Aku seneng -ada orang berantem ko seneng?- sekaligus menyayangkan karena tidak bisa mengabadikan momen itu.
Yah, tapi kalo ntar karena aku mengabadikan momen itu dan malah mengakibatkan hal yang tidak terduga kan gawat.
Rasanya keselamatan lebih penting.

Tapi aku jadi mikir, kalo untuk mengabadikan kejadian tadi aja aku ragu ragu, rasanya aku ini masih fotografer yang belum ada apa-apanya.. *sigh :<

Hauuuu...
Ayo semangat menekuni fotografi!!
Hobraaa~ -salam fotografi ala performa UPI-

About Me

My photo
cat lover, japan addict, spy girl, paparazzi, the nocturnal, plegmatis, book eater, newbie teacher, single happy, travel writer wannabe;