Pages

Showing posts with label memories. Show all posts
Showing posts with label memories. Show all posts

11.24.2015

Surprise, Sweet Moment, and Gratitude

Bagiku satu tahun ini menjadi satu tahun yang begitu cepet berlalu sekaligus lambat.

Setahun sudah aku tidak mengisi blog dengan ungkapan ide atau curahan hati atau bahkan sekedar ungkapan kata. Dan kini (22 nov 2015) usiaku sudah bertambah satu lagi. Ucapan dan doa dari orang-orang terkasih, keluarga, saudara, sahabat, teman, dan mungkin hanya sekedar kenalan sudah cukup menjadi rasa syukur atas keeempatan yang masih diberikan-Nya untuk merasai udara yang mengisi napasku, memijak tanah yang menghidupi langkahku, dan memandang langit yang menaungi hatiku.

Maka, benar-benar tak kusangka akan mendapat kejutan-kejutan berharga hari ini (23 nov 2015).

Kejutan-kejutan sederhana namun terasa manis.

Karenanya berjuta terima kasih kuucapkan untuk :

Natalis, atas hadiah kecil dengan kehangatan yang besar,
 

Nita dan Ririn, atas kue manis yang akan menjadikannya kenangan yang jauh lebih manis,


teman-teman TP B (Sella, Erni, Zizah, Dwi, Adrie, Randy, Andri, Galih, Fakih, Haris, Alwan, Ence, Zia, Pak Wid, Mas Toto, Air) atas ucapan, kemeriahan, dan doanya, kebersamaan kita akan selalu kurindukan.


Satu hal yang kurenungkan untuk tahun ini.

Setahun sekali seseorang selalu merayakan hari lahirnya atau setidaknya menganggap hari itu sebagai hari yang spesial. Namun seringkali kita lupa bahwa setiap hari umur kita bertambah, bahkan tiap detknya dan seringkali kita lupa, setiap umur kita bertambah maka waktu hidup kita pun sebenarnya semakin berkurang.

Untuk mengingat hal itu, jangan lupa bersyukur atas apa yang kita terima hari ini dan apa yang telah diberikanNya sepanjang hidup kita.

Bersyukur dan berbahagialah. Alhamdulillah :3


抜き猫

11.12.2014

Catatan Perjalanan Dieng, Day 1 Wonosobo

Salah satu keseruan yang saya rasakan ketika pertama kalinya kuliah di luar kota, tepatnya di Jogjakarta, adalah acara jalan-jalan.
Berbeda ketika saya S1 di Bandung yang notabene adalah kota kelahiran saya, kuliah di luar kota menimbulkan ketertarikan yang luar biasa untuk menjelajah berbagai macam tempat yang baru saya kenal ini. Padahal tempat-tempat wisata di Bandung saja belum semua saya jelajahi. :p

Keantusiasan saya inilah yang menyebabkan saya tidak bisa menolak ajakan jalan-jalan teman-teman sekelas saya menuju Wonosobo, kota asal salah satu teman saya, Fakih Fauzan.
Memanfaatkan jadwal kosong di sela waktu kuliah, kami semua sepakat untuk berangkat pada hari Rabu sore, 22 Oktober 2014, dari Jogjakarta menuju Wonosobo yang kemudian akan dilanjutkan dengan "mendaki" Dieng.

Setelah menyelesaikan kuliah terakhir pada hari Rabu, kami pulang ke kosan masing-masing, mempersiapkan segala macam alat penjelajahan. Ketika mempersiapkan barang-barang yang akan saya bawa, saya mendadak merasa seperti Sherina saat akan bertanding dulu-duluan dengan Sadam menuju puncak bukit dalam film Petualangan Sherina. (so old time~ :3 )

Karena perjalanan ini akan memakan waktu kurang lebih sehari semalam, saya mempersiapkan barang-barang yang perlu dibawa dengan matang, mulai dari baju sampai alat mandi, tak lupa botol air minum dengan isi satu liter. Teringat kata-kata mas Fakih soal perjalanan yang jauh dan berliku.

Jam sudah menunjukkan pukul 3 lebih ketika saya akhirnya selesai mengepak. Saya pun memutuskan untuk berangkat menuju kampus, menuju meeting point yang telah kami sepakati. Ketika bersiap di depan kosan, memakai sepatu biru kesayangan, saya kebetulan berpapasan dengan salah satu teman kosan yang langsung bertanya, "Mau kemana mba?" Sebuah pertanyaan yang otomatis ditanyakan saat kita melihat seseorang terlihat mau pergi.
"Mau ke Wonosobo," jawab saya santai.
Dengan pandangan bingung teman saya itu bertanya lagi, "Pake motor mba?"
Saya mengangguk yakin, mengabaikan nada ragu yang tersirat dalam pertanyaannya.
"Serius?" tanyanya lagi dengan tidak percaya.
Mendengar nada terkejutnya membuat saya merasa ragu dengan perjalanan yang akan saya lakukan.
Apa perjalanannya begitu berbahaya? Atau, sebegitu jauhnya sampai menimbulkan keterkejutan seperti itu?

Berusaha menjauhkan segala macam pikiran yang tidak perlu, saya memutuskan untuk berangkat dengan memantapkan hati, menghadapi apapun yang mungkin terjadi nanti.

Jarum jam menunjuk angka 4 ketika kami beranjak dari pelataran kampus.
Sepuluh orang, lima motor, dan perjalanan berkilo-kilo meter.

Ini dia sepuluh orang yang ikut dalam perjalanan menuju Dieng.
Mas Fakih (tuan rumah kali ini) dan Erni (istri tercintanya :3), Mas Toto (ketua kelas kami), Mas Andri (fotografer dalam perjalanan ini :D), Zia (orang paling unik di antara kami :p), Nita (my best partner), Natalis (temen narsis bareng :v), Ririn (gadis asli Makassar), dan Sheila (the youngest girl in the class).



Di awal perjalanan semangat masih menggebu, motor yang saya kendarai masih membelah cepat jalanan kota Jogja, ditemain Nita yang duduk manis di belakang saya. Memasuki Magelang, hujan gerimis mulai turun, mengingatkan saya akan Bandung yang seketika membuat saya rindu.
Berhubung Jogja belum sedikitpun mendapat setitik air hujan, gerimis yang saya rasakan di Magelang benar-benar mengobati kerinduan pada hujan yang membasahi bumi.
Meski hanya hujan sesaat.

Waktu magrib telah beberapa puluh menit lewat saat kami memutuskan untuk shalat Magrib, menghangatkan tubuh yang mulai kedinginan. Meski belum memasuki Wonosobo, suhu udara sudah terasa berbeda sekali dengan di Jogja. Di tempat wudhu, sambil meluruskan punggung dan kaki yang mulai pegal, saya membalur tubuh dengan aroma therapy yang sudah saya siapkan. Menghangatkan tubuh sekaligus merilekskan otot.

Selepas shalat, saya merasa kembali segar dan lebih hangat karena efek aroma therapy, kami pun melanjutkan kembali perjalanan. Langit sudah beranjak gelap sejak tadi, sinar matahari digantikan lampu-lampu jalan dan kendaraan yang berlalu-lalang.
Sejujurnya saya berharap bisa sampai di Wonosobo sebelum benar-benar gelap, karena saya selalu mengalami kekhawatiran (entah kenapa) saat menyetir di malam hari.
Tak perlu dibuktikan lagi, memang itulah yang terjadi. xp

Karena saya semakin tertinggal dari teman-teman yang berada di depan saya. Untungnya ada Mas Andri yang mengontrol di paling belakang, jadi saya dan Nita tidak tertinggal apalagi sampai kesasar di tempat yang asing ini. Namun, itu belum seberapa, perjalanan kami semakin sulit ketika hujan mulai turun lagi.
Hujan di siang hari saja sudah cukup membuat sulit, apalagi di malam hari. Kali ini bukan hanya gerimis, hujan deras mendera kami. Celakannya, saya sama sekali tidak punya jas hujan, karena sengaja tidak saya bawa dari Bandung dan berhubung cuaca Jogja yang selalu panas saya belum membeli jas hujan baru. Saya sama sekali tidak memprediksi soal cuaca di Wonosobo akan begitu berbeda.
Kami pun tetap melanjutkan perjalanan berharap menemukan toko yang menjual jas hujan di sisi jalan. Setelah menahan tetesan hujan yang terasa menusuk-nusuk kulit, pandangan yang semakin memburam, dan dingin yang menggigit, Akhirnya kami pun melihat toko jas hujan dan membeli jas hujan murah, melindungi tubuh yang sebenarnya sudah basah kuyup.
Seakan belum lengkap, kami masih harus melalui jalan berkabut, membuat jangkauan mata saya yang sudah minus semakin menurun. Dan saya pun semakin tertinggal jauh.
Melewati jalan berkabut, kami menghadapi kerlap kerlip lampu di sisi jalan yang membentuk tanda seru, memperingati semua pengendara akan adanya turunan tajam. Hujan memang sudah mereda, namun jalanan yang licin selepas hujan membuat saya semakin menurunkan kecepatan.
Saya tak melihat siapapun lagi di depan saya.
Tak tahu berada dimana dan tak yakin seberapa jauh lagi tujuan kami.
Apalagi saya pikir di belakang saya tak ada siapa-siapa, karena saya sempat melihat Mas Andri menyusul saya dan tak melihatnya lagi setelah itu.

Ketika turunan-turunan telah kami lalui dan hujan kembali turun, Nita menyarankan untuk gantian menyetir. Saya pun mencari tempat yang saya rasa nyaman untuk berhenti, menekan rem, kemudian turun dari motor. Saat itulah motor Mas Andri beserta Ririn melewati kami, berhenti beberapa meter di depan motor saya. Sama sekali tak menduga kemunculannya.
Jadi selama ini sebenarnya mereka ada di belakang kami.

Saya kembali mengalihkan perhatian pada Nita yang beranjak meraih setir, merasa aman setelah ia memegang stang, saya melepas pegangan saya. Lalu, saat perhatian saya teralih pada tas Nita yang terlihat berat dan berusaha mengangkat tasnya, saya melihat motor saya telah terguling membuat saya kaget seketika. Kok bisa? Padahal saya sama sekali tidak merasa motor itu terjatuh.

Dengan panik, saya berusaha mengangkat motor belum sadar bahwa kaki Nita juga terperosok ke selokan kecil di pinggir jalan. Saya lalu mengecek kondisinya, memastikan bahwa ia baik-baik saja. Kemudian Mas Andri menghampiri kami, ikut membantu kami dari "kecelakaan kecil" tersebut.

Setelah menenangkan diri dan memastikan kami siap melanjutkan perjalanan, saya, Nita, Mas Andri, dan Ririn kembali menelusuri jalan. Sudah benar-benar ketinggalan dari yang lain.
Di pertigaan jalan yang saya tak tahu dimana, kami berhenti tak tahu pasti kemana harus pergi.
Hingga akhirnya kami menghubungi salah satu teman kami.

Mengikuti petunjuk, kami belok ke arah kanan mencari pom bensin tempat yang lain menunggu sekaligus memberi asupan energi baru untuk motor kami. :D

Setelah sepuluh orang berkumpul kembali, kami melanjutkan sisa perjalanan menuju rumah Mas Fakih, yang sudah tak seberapa jauh lagi.

Jam 9 malam, akhirnya kami berhenti di depan sebuah rumah. Saya benar-benar merasa lega karena perjalanan hari ini akhirnya berakhir. Ini perjalanan terjauh dan tersulit yang pernah saya tempuh.

Saya hanya ingin mandi, makan, lalu tidur.
Masih ada perjalanan yang harus ditempuh besok pagi.

Menuju puncak tertinggi. Dieng. :3
   

9.16.2013

CPD dan Shikat Miring!

Sebelum kita masuk ke inti cerita, rasanya perlu saya jelasin dikit tentang CPD dan "Shikat Miring!".
CPD merupakan singkatan dari Camping Pendidikan Dasar, yang merupakan bagian dari kegiatan orientasi siswa yang biasa disebut MOS (buat yang se-zaman sama saya), atau kalau disesuaikan dengan zaman sekarang bisa disebut MOPD (Masa Orientasi Peserta Didik) atau MPLS (Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah). Nah, kegiatan CPD ini baru saja diselenggarakan minggu lalu di sekolah tempat saya bekerja, dimana acaranya diselenggarakan malam hari.
Lalu, apa itu "Shikat Miring!"? Buat yang baru denger mungkin dari namanya saja sudah terdengar aneh, belum lagi dengan penambahan huruf 'h' diantara 's' dan 'i'. Nah, kalo untuk soal yang satu ini kayanya Mas Danang sama Mas Darto lebih tau. Jadi silakan nonton (atau youtubing) aja The Comment di Net Tv. :D
Caution! : Ada baiknya kalian tau dulu apa itu Shikat Miring sebelum membaca tulisan di bawah ini. Supaya lebih 'ngena' gitu.

Ok. Jadi cerita ini dimulai minggu lalu, pada suatu sore yang cerah (kalo ngga mau disebut panas).
Sesuai dengan yang telah direncanakan, kami para panitia CPD (terdiri dari anggota OSIS dan guru muda *ehem) bersiap-siap untuk pergi ke lokasi. Saya yang tahun lalu jadi tim medis, sama sekali ngga nyangka sekarang diminta untuk jagain pos. Buat yang pernah ngalamin CPD atau Pelantikan Anggota pasti ada kan kegiatan malem-malem yang keliling dari satu pos ke satu pos lain buat ngelaksanain misi?
Nah, saya diminta sama salah satu anggota OSIS untuk jaga di Pos 1 bareng sama dua orang anggota OSIS, sebut saja A dan R (belum ada izin untuk mempublikasikan nama),  yang bikin saya agak kaget karena udah berasumsi cuma bakalan jadi tim medis aja.

Singkatnya, kami tiba di tempat perkemahan yang jaraknya tak begitu jauh dari sekolah.
Malam pun menjelang. Setelah makan malam, R, salah satu anggota OSIS yang sama-sama jagain pos 1 bareng saya ngajak diskusi soal pertanyaan yang nanti akan diberikan dan hukumannya kalau mereka ngga bisa jawab.
Pertanyaan selesai dibahas, dan untuk hukuman R menyarankan untuk jalan bebek sambil nyanyi Potong Bebek Angsa, yang menurut saya agak kurang 'wah'. Awalnya terbersit sebuah ide dalam kepala saya untuk memberikan hukuman 'Goyang Caesar' yang populer waktu Ramadhan kemarin. Tapi karena saya sendiri tidak tahu seperti apa bentuk goyang tersebut (karena hanya mendengar cerita dari sepupu saya yang selalu nonton acara itu pas sahur), jadinya ide itu saya cancel.
Mendadak, entah datang darimana dan bagaimana, "Shikat Miring!" tiba-tiba saja muncul dalam benak saya. Sebelum saya sempat memproses ataupun memikirkan kembali ide tersebut, mulut saya langsung saja melontarkan ide untuk memberikan hukuman berupa "Shikat Miring!" pada R, yang diluar dugaan, merespon ide itu dengan terlalu baik.
Dengan semangat 45 dia memanggil A yang kebetulan banget tau tentang "Shikat Miring!". Saat itu saya merasa telah salah bicara. Oh Noooo~

Karena sudah terlanjur basah, akhirnya saya malah ikut semangat ngebahas rencana tersebut. Kami bahkan merencanakan latihan singkat "Shikat Miring!" saat pengecekan lokasi pos. Sayangnya latihan tersebut terpaksa dibatalkan karena kami cek lokasi pos rame-rame sama penjaga pos lain. Jadinya kami hanya berlatih dialog "Shikat Miring!" di rumah kecil tempat para panitia berkumpul.

Finally, pertunjukan dimulai!
Sekitar jam 11 malam kami sudah berjaga di pos. Posnya berupa saung kecil di dekat sawah, di dalam hutan yang dikelilingi pohon. Ditemani sebatang lilin yang berpendar dan keripik kentang rasa balado, kami latihan "Shikat Miring!" kecil-kecilan yang membuat kami bertiga tak hentinya tertawa karena segala kekonyolan "Shikat Miring!" ini. Ide siapa sih ini?



Oke, saya yang ngasih ide.

Menit demi menit berlalu dan belum ada satupun kelompok peserta yang muncul (satu kelompok terdiri dari 6-9 orang). Sambil menunggu, saya merebahkan diri di saung, merasakan dinginnya udara di tengah alam yang pada akhirnya membuat saya tertidur.

1 jam kemudian, saya dibangunkan karena tanda-tanda kelompok peserta pertama sudah terlihat.
Saya berdiri dan bertanya-tanya dalam hati, Benarkah saya harus melakukan ini?. Meski merasa ini memalukan, tapi keinginan saya untuk membuat hukumannya 'menarik' akhirnya memantapkan keinginan saya untuk meneruskan misi ini.
The show must go on, guys~

Kelompok peserta pertama tiba di hadapan kami.
Akhirnya, setelah melontarkan beberapa pertanyaan dan dijawab dengan kurang memuaskan, hukuman "Shikat Miring!" pertama pun dijatuhkan. Herannya, tak ada satu orang pun yang tahu 'tarian' ini. Jadi, saya, R, dan A memperagakan gerakan-gerakan ini satu kali dan nantinya harus dicontoh oleh mereka. Berikut langkah-langkah melakukan "Shikat Miring!" versi kami :
Pertama, satukan kedua telapak tangan (seperti posisi memberi salam) dan letakkan di depan dada, lalu ucapkan "Pertama niatkan, kalau belum sanggup ya sanggupin!" sambil mengepalkan kedua tangan dan menariknya seperti mengatakan "Yes!"
Berikutnya ucapkan "Kalau udah sanggup langsung di sundul sayang~," (menggerakkan kepala seperti menyundul bola ke arah kanan). "Kecup manja...," (menggerakkan kepala ke kiri dan memajukan bibir seperti ingin mencium disertai suara kecupan, mmuah~).
Langsung ucapkan, "Iris tipiiiiis," (menggerakkan lengan kanan dibawah lengan kiri seperti mem-fillet ikan). "Potong maniiiiis," (menggerakkan tangan kanan diatas lengan kiri seperti memotong buncis).
Terakhir, rentangkan kedua lengan dan tekuk kaki kiri ke depan lalu ucapkan "Shikat Miring!"

Uhuk. Selesai menulis tutorial barusan saya masih merasa malu. Bangeeeet.
Tidaaak, apa yang saya lakukaaan? *gali lubang dan sembunyi.

Peserta berikutnya dan berikutnya dan berikutnya lagi datang, hukuman "Shikat Miring!" pun dijatuhkan bertubi-tubi, membuat saya menggali lubang imajinasi semakin dalam. Peserta terakhir akhirnya berlalu dan saya merasa seperti kepiting rebus.
Kembali ke rumah kecil kami, menertawakan kekonyolan yang baru saja kami lakukan sembari menunggu para peserta kembali. Topik "Shikat Miring!", entah bagaimana menjadi populer. Hingga membuat salah seorang guru yang belum tahu langsung mencarinya saat itu juga melalui youtube. Sampai para peserta membahasnya bahkan setelah kembali ke lokasi kemping. Dan bahkan masih tetap populer hingga saat tulisan ini saya buat, mungkin hingga esok, minggu depan, bulan depan, dan bisa jadi, tahun depan.

Beberapa anggota OSIS yang tahu tentang pertunjukan"Shikat Miring!" yang kami lakukan di pos 1 dan tidak tahu bagaimana 'wujudnya', bahkan sampai meminta saya untuk menunjukkan 'tarian' itu pada mereka. Saya katakan bahwa itu adalah pertunjukkan spesial kemping. No. More.

Saat ini saya masih heran dengan kenekatan saya sendiri dalam melakukan pertunjukkan itu. Saya yang beberapa waktu lalu malu berat hanya karena dihukum nyanyi lagu Potong Bebek Angsa dengan huruf vokal 'a' (jadi Patang Babak Angsa) di suatu acara, kok ya bisa-bisanya menunjukkan 'tarian' "Shikat Miring!", depan murid-murid pula. Hahaha. ;p
Sebelumnya, saya belum pernah sekalipun se-ekspresif ini. Apa ini efek training #Xpressive yang terlambat?

Walaupun saya jelas-jelas masih merasa malu dan ketawa konyol kalau ada yang mengangkat topik itu ataupun teringat pertunjukan itu, tapi saya berpikir, kalau semua itu membuat saya sadar bahwa saya pun bisa se-ekspresif itu. Bukankah itu bagus? Bukankah itu artinya sebuah kemajuan, sebuah perubahan kecil yang nantinya akan berdampak besar? Who knows.


- Saya yang masih bertanya-tanya kenapa menuliskan cerita ini dan mempermalukan diri sendiri -
抜き猫

4.09.2013

Karena Terbiasa...

Memang cinta itu datang karena terbiasa, itulah fitrahnya.  [@felixsiauw]

Awalnya terbiasa melihat
Lalu terbiasa bertemu
Jadi terbiasa berdekatan
Terus terbiasa mengobrol
Lama-lama terbiasa jalan bareng

Saat sendirian terbiasa membayangkannya
Mencari tahu tentangnya
Membaca tentangnya
Mendengar tentangnya
Tidak mengherankan bila perasaan itu semakin menguat.

Cinta datang tiba-tiba~ (siapa bilang?)
Orang Jawa bilang witing tresno jalaran soko kulino.
Ya itu tadi, cinta datang karena telah terbiasa.

Pada dasarnya, perasaan itu akan menguat bila diberi rangsangan secara terus-menerus, berkelanjutan. Kalau mau dibikin lemah bahkan dibikin hilang, ya jangan diberi rangsangan.
Sama kaya tanaman yang akan tumbuh dan berkembang jika diberi pupuk dan disirami, ia akan layu jika tidak diberi nutrisi (si pupuk dan si air tadi).

Kalau mau dihilangkan, ya Biasakan !!

Biasakan tidak jalan bareng
Biasakan tidak sering mengobrol
Biasakan tidak sering berdekatan
Biasakan tidak sering bertemu
Biasakan tidak sering melihat
(Apalagi kalo ga perlu-perlu amat)

Biasakan tidak mendengar tentangnya
Biasakan tidak membaca tentangnya
Biasakan tidak mencari tahu tentangnya
Biasakan tidak membayang-bayangkan sosoknya
(Masih banyak hal lain yang lebih bermanfaat kok :) )

Melepaskan perasaan itu bukanlah hal yang mudah, karena memang ada kenikmatan tersendiri saat tenggelam di dalamnya.

In the end, it's a choice.
Terus tenggelam dalam kegalauan atau keluar dari sana dan merasakan kenikmatan yang jauh lebih besar dengan melakukan hal-hal yang positif.


So, it's not being blue is another kind of beauty
but being lonely because of Allah is another kind of beauty. :')

抜き猫

6.03.2011

menuju detik perpisahan

uwaaah~ waktu memang selalu berlalu begitu cepat ya...

4 bulan yang kupikir lama itu sekarang sudah hampir berakhir.
4 bulan plp yang harusnya lama itu kok malah sama sekali ga berasa ya?
belum juga berakhir udah ngerasa kangen..
sama sekolahnya
sama meja piketnya
sama lab. komputernya
sama guru gurunya
sama temen temen plp
apalagi anak anaknya >_<

hari ini, itu semua kerasa banget~!!
karena senin anak anaknya pada UKK [Ujian Kenaikan Kelas], jadinya masuk di kelas 7A tadi itu hari terakhir aku ngajar di kelas... :'(

ya sebenernya, ga bisa dibilang ngajar juga sih. soalnya, hari ini giliran mereka yang tampil di depan kelas, menyampaikan presentasi biodata yang ditugaskan minggu lalu.

setelah semua anak mengumpulkan flashdisk mereka dan semua data dipindahkan ke salah satu komputer lab yang sudah terhubung dengan proyektor, aku memanggil mereka satu per satu dengan memilih salah satu flashdisk yang terkumpul secara acak.

begitu namanya dipanggil, ada yang reaksinya "ibu, maluuu" atau "ibu, jangan saya yang lain aja dulu".
ada juga yang langsung maju dengan cukup percaya diri.
macem-macem deh reaksinya, kalo liat mereka rasanya kaya liat aku waktu zaman smp.
melihat mereka membuatku berpikir dulu aku juga kaya gitu ya.. (malu-malu dan ga pe-de an :p)

kayanya mereka malu deh karena disuruh pajang foto di biodata mereka dan salah satu penyebab mereka ga percaya diri adalah 'komentar-komentar' dari anak-anak yang lain.
padahal sebenernya apa yang mereka tulis tentang cita-cita, motivasi, kritik saran mereka untuk pelajaran TIK, dan kesan pesannya bagus-bagus.
bikin aku senyum-senyum sendiri. ;)

selama presentasi itu, aku belum begitu kepikiran soal 'bakal kangen sama saat-saat ini'
waktu kelas akhirnya dibubarkan (pelajaran TIK di 7A ada di jam terakhir) dan aku 'mengawal' mereka kembali ke kelasnya untuk piket, saat itulah aku bener-bener ngerasa sedih karena sebentar lagi aku ga akan merasakan lagi kehidupan di sekolah ini.

waktu aku sedang mengawasi kegiatan bersih-bersih kelas, beberapa murid cewe 7A pada kumpul di depan kelas, ngobrol-ngobrol sama aku.
salah seorang dari mereka tanya "bu, nanti semester depan ngajar kelas 8 apa?"
sepertinya beberapa dari anak-anak 15 ga pada tau kalau kita-kita (anak plp) selesei ngajar bulan juni.
aku jawab "semester depan ibu udah ga ngajar lagi.."
terus dia bergumam kecewa dan bilang "padahal ibu jadi guru disini aja bu.." di-koor-i 'iya' dari anak-anak lain.
uwaaah~ aku jadi terharu~ ,>_<,
langsung aja aku jawab "ya, kalo bisa ibu juga pengen jadi guru disini..."

duuh. bener-bener deh, kata-kata mereka itu bikin aku ga pengen udahan plp
bikin aku ngerasa 'setelah plp bener bener beres, aku pasti kangen banget sama mereka, sama seluruh murid yang pernah aku ajar, sama seluruh kelas yang pernah aku masuki'

perpisahan itu pasti terjadi, karenanya...
pengalaman mengajar di SMP Negeri 15 Bandung akan selalu jadi pengalaman berharga dan kenangan manis yang tak pernah kulupakan. >_<

aku akan merindukan saat saat itu selamanya...

About Me

My photo
cat lover, japan addict, spy girl, paparazzi, the nocturnal, plegmatis, book eater, newbie teacher, single happy, travel writer wannabe;