Pages

Showing posts with label menulis. Show all posts
Showing posts with label menulis. Show all posts

4.16.2014

Though I...

Blog post ini dibuat dalam rangka mengikuti Proyek Menulis Letters of Happiness : Share your happiness with The Bay Bali & Get discovered!

Aku memalingkan wajah ketika kedua pasangan yang saling berbahagia itu bertukar cincin. Tak seorang pun akan menyadari pandanganku yang beralih, karena orang-orang lain jelas bersikap antusias dengan sorot mata bahagia, seolah ini pernikahan mereka. Tanpa perlu melihat pun aku sudah tahu apa yang akan terjadi selanjutnya, keduanya akan berciuman sebagi tanda sahnya pernikahan mereka. Melihatnya secara langsung, tentu saja, hanya akan membuat hatiku semakin menangis.
Ketika semua orang berdiri dan berjalan semakin mendekat ke altar, menanti buket bunga pengantin yang akan dilempar sang mempelai wanita, aku berjalan perlahan meninggalkan kerumunan, menapaki batu-batu alam menuju pantai yang terlihat dibalik deretan pepohonan. Bibirku sesekali tersenyum, menyapa orang-orang yang bertatapan denganku. Entah aku mengenalnya ataupun tidak, sepertinya bibirku secara otomatis melengkung ketika bertatapan dengan orang lain. Mengerikan membayangkan bahwa tindakanku ini sudah menjadi sebuah kebiasaan tanpa aku sadari.
Semakin aku mendekati pantai, semakin sedikit orang-orang yang kutemui. Suara hiruk pikuk terdengar ramai di belakangku, namun yang kudengar, yang ingin kudengar, hanyalah debur ombak di depan sana. Aku dapat mencium bau garam yang terbawa angin, menyadarkanku laut semakin mendekat. Sepoi angin melambaikan sundress kuning gading selutut yang kukenakan, membelai lembut tubuhku yang kepanasan karena sinar matahari yang mendadak terasa begitu terik.
Atau mungkin justru hatiku?
Begitu pepohonan semakin jarang dan kakiku menjejak pasir yang begitu putih, aku bisa melihat lautan biru menghampar luas di hadapanku. Laut yang terlihat luas tak berujung dan langit yang membentang sampai jauh membuatku merasa dunia ini milikku. Membuatku merasa sendirian, sekalipun banyak orang berkumpul di tepi pantai. Dan aku merasa, akhirnya, bisa bernapas lega. Tanpa ada siapapun yang kukenal di sekitarku. Tanpa ada orang yang harus kutipu dengan senyum ramah atau basa-basi hangat.
Tempatku akhirnya bisa menangis, sendirian.
Kukira begitu, sampai seseorang muncul dan menghancurkan anganku begitu saja. Aku berbalik dan segera menyunggingkan senyum, senyum lebar yang sesungguhnya memintanya pergi.
Sungguh, aku sudah lelah.
“Tidak menginginkan buket bunganya?” tanyanya setelah membalas senyumku, jelas sekali ia tidak menyadari arti dibalik senyum yang kusunggingkan barusan.
“Tidak juga, kenapa harus?” jawabku tanpa sedikitpun menurunkan sudut lengkung bibirku, sekedar bersikap ramah. Meskipun sebenarnya aku tidak begitu mengenal lelaki yang mengajakku bicara ini.
“Well, it’s your best friend wedding’s party, isn’t it?” tanyanya dengan nada yang seperti berkata ‘seharusnya-tak-perlu-dipertanyakan-lagi’.
Lelaki bernama Verrell ini sungguh membuatku tertawa, “So, how about you Ve?” Aku tak tahan untuk bertanya, karena sang mempelai pria yang merupakan sahabatku  itu adalah sepupunya. Tanpa kuduga, matanya seketika lekat menatap kedua bola mataku. Tatapannya yang seolah bisa melihat langsung ke dalam hatiku itu membuatku jengah, membuatku langsung saja berpaling. Tanpa sempat berpikir bahwa tindakanku itu kurang sopan.
Sayangnya, apa yang berikutnya memasuki penglihatanku malah membuatku semakin jengah. Laki-laki di altar itu tengah menggandeng mesra wanita yang kini telah resmi menjadi istrinya. Keduanya berjalan saling bertatapan menuruni altar, bunga-bunga seakan bermekaran di sekeliling mereka. Sementara para pemain musik mengiringi mereka dengan musik khas pernikahan yang buatku terdengar seperti musik kesedihan.
“Apa kamu menyesal Lun?” Verrell tiba-tiba bertanya lagi, membuatku menoleh terperangah, sepertinya lelaki ini tak juga berniat untuk berhenti mengusikku. Aku baru saja akan menjawab tidak, ketika Verrell berkata tanpa melepaskan pandangannya dariku, “Kurasa kamu memang menyesal.”
“Tidak,” jawabku segera, menyangkal pernyataannya yang tak ingin kuakui, “Tentu saja tidak. Aku turut berbahagia dengan pernikahannya.” Aku berusaha keras memandang matanya, menjawabnya dengan senyuman lebar. Tapi, saat menemukan matanya aku tahu ia menyadari kebohongan yang kukatakan.
“Kenapa aku harus menyesal?” tanyaku, mempertahankan diri dari matanya yang seolah bisa membongkar semua kebohonganku.
Verrell terdiam, sepertinya bukan karena tidak bisa menjawab pertanyaanku tapi ia sengaja membuat jeda untuk menekankan perkataannya. Ia mengalihkan tatapannya dan memandang kedua mempelai itu, “Karena kamu mencintainya,” ia berkata tanpa keraguan, seperti membicarakan perasaannya sendiri.
Ia sepenuhnya benar dan aku tak mengerti bagaimana dia bisa tahu, tapi aku tak akan semudah itu mengakui perasaanku di depan seseorang yang tak begitu kukenal. Tidak seorang pun pernah tahu aku mencintainya, bahkan orang yang paling dekat denganku sekalipun.
“Of course not,” aku tertawa meski hatiku jelas masih menangis, “Why do you think like that?” Masih tertawa, aku memandangnya penuh selidik. Tapi ia tidak ikut tertawa, sesungging senyum pun tidak,  ia memandangku dengan raut wajah yang tak bisa kutebak apa artinya.
 Aku segera saja terdiam, tak berkutik di bawah tatapannya. Baru kali ini ada seseorang yang dengan mudahnya menebak apa yang kurasakan. Padahal kami hanya pernah bertemu beberapa kali, ketika aku membantu mempersiapkan pernikahan sahabatku ini. Aku tidak mengerti bagaimana ia bisa mengetahui semua tentang diriku padahal selama ini aku selalu berhasil menutup diriku dari orang-orang lain.
“Luna!” seruan itu tiba-tiba mengagetkanku, seketika aku menoleh pada pasangan yang semakin mendekati tempat kami berdiri. Aku langsung tersenyum lebar, sosoknya saat ini sungguh terlihat begitu memikat. Sungguh beruntung sekali istrinya, diam-diam aku berharap akulah yang ada di sampingnya. Impian yang tak mungkin jadi nyata.
Ketika keduanya benar-benar berada di hadapan kami, Chris berbisik di telingaku, “Thanks for make it happen Lun.” Perkataannya memilukan hatiku, namun aku hanya bisa tersenyum.
“You make it Chris, not me. Congratulation,” ujarku, lalu menatap wanita di sampingnya,  “Selamat, semoga kalian selalu berbahagia.”
Seketika Giselle memelukku, “Thank you so much Lun, kamu sudah membuat pernikahan impianku jadi nyata. Aku sangat-sangat berterima kasih.” Aku tak tahu harus bereaksi bagaimana menanggapi ucapan terima kasih yang jelas-jelas penuh kebahagiaan itu, jadi aku hanya balas memeluknya, menjawabnya dengan sederhana.
 “Sama-sama.”
Aku bisa membuat pernikahan ini menjadi pernikahan yang sesuai dengan impiannya, karena seperti inilah aku memikirkan pernikahan impianku. Pernikahan yang tadinya kuimpikan jika aku nanti menikah. Aku membayangkan sebuah pernikahan di tepi pantai dengan desir ombak mengiringi pernikahanku dan cahaya matahari menerangi kami berdua, seolah memberkati pernikahan kami. Aku merasa ajaib ketika tahu bahwa The Bay Bali bisa saja membuat impianku jadi nyata.  
And it is, really. Seandainya akulah yang menikah hari ini. Aku jadi merasa begitu bodoh membuat pernikahan impianku menjadi nyata untuk orang yang aku cintai tapi bukan aku yang menjadi pasangannya.
Giselle melepaskan pelukannya padaku, lalu menatap Chris dengan air mata bahagia. Keduanya kembali bergandengan tangan, “Nikmati pestanya Lun,” seru Chris lalu menatap Verrell. Lelaki itu menepuk bahu Chris penuh persahabatan sebagi ucapan selamat, lalu keduanya beranjak pergi, menyapa tamu-tamu lain.
Mataku memandang sosok kedua pengantin yang semakin menjauh, tak juga beralih meski rasanya menyakitkan. “You really love him, aren’t you?” Verrell berkata lirih, “I know.”
Yes, I am, bisikku. Dan detik itu pertahananku runtuh, air mata seketika tertumpah dari mataku. Lagu Happy 2NE1 bermain begitu saja dalam benakku.
The sadness over you Bye Bye Bye
Since you need to be without me to be happy
Without you I’m not Happy but I hope you’re happy
I’ll watch over you from afar
Without you I’m not happy but I hope you’re happy
Live happily once forgetting me
I hope you’re happy
Live happily once forgetting me
I wish you’re happy
I though we had it together but well

  Aku menarik napas, berusaha mengusir sesak yang memenuhi rongga hatiku. Verrell sama sekali tidak beranjak dari sisiku, dengan lembutnya ia berkata. “Menangislah kalau ingin menangis Lun. Biarkan perasaanmu lepas.”
Aku menghembuskan napasku, “How do you know Ve?” tanyaku tak mengerti.
Verrell memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana dan menatapku tepat di bola mata. “Karena aku selalu memperhatikanmu,” ucapnya tegas.
Aku memandangnya tak mengerti.
“I love you Lun,” ungkapnya, “Sejak pertama kita bertemu.”


抜き猫

4.06.2013

1st Exercise : Sense of Sight

Show, don't tell
Ini adalah aturan paling penting dalam mendeskripsikan sesuatu pada sebuah tulisan.
Berdasarkan aturan tersebut, maka minggu lalu kami berlatih menulis untuk mendeskripsikan suatu benda. Kebetulan, saat itu di hadapan kami bertebaran berbagai macam cemilan, akhirnya dipilihlah satu cemilan untuk kami deskripsikan bersama.
As we know, kita memiliki 5 jenis indra. Nah, yang kami latih pertama kali ini adalah indra penglihatan.
Karena itu, kami hanya boleh mendeskripsikan si cemilan tadi hanya berdasarkan apa yang kami lihat saja. Dan dalam waktu yang berlalu seperti sekejap mata, inilah tulisanku saat itu :

- - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - 

Warna hijaunya mengingatkan pada Hulk, tau kan si tokoh superhero berbadan besar itu? Berbeda dengan Hulk yang berubah jadi hijau karena suatu bahan kimia, warna hijau miliknya kemungkinan diakibatkan oleh pandan atau bisa juga oleh pewarna makanan (eh, tapi itu kan bahan kimia juga ya?). Bentuknya mirip balok (yang setelah diselidiki lebih lanjut, ternyata bentuknya silinder! Iya, silinder!) dengan lubang kecil memanjang di tengahnya.

Cemilan jenis apakah ia?
(ayo, tebak-tebak berhadiah ^^)

- - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - 

Karena waktunya yang memang sangat-sangat terbatas, dan aku yang waktu itu mikirnya emang rada lama, jadinya cuman segitu aja..
Minggu ini, rencananya kami akan melatih indra-indra yang lain. Afdolnya sih si cemilan itu hadir lagi di tengah-tengah kami, biar nulis deskripsinya makin mantap. *Bilang aja nagih :p. 

抜き猫

3.29.2013

Mata, Botol, Sakit

Dua minggu yang lalu, seperti biasa kami (komunitas penulis @najmubooks) berkumpul. Tema yang kami bahas kali ini adalah menulis cepat dengan strategi tiga kata, dimana kami memilih tiga kata secara acak. Secara unik, kata yang terpilih adalah mata, botol, dan sakit.
Kami semua harus menulis apapun, dengan syarat harus ada kata mata, botol, dan sakit.
Kelihatan sulit untuk disambungkan, eh?
Kata siapa...

Akhirnya setelah waktu sepuluh menit berlalu, kami saling bertukar tulisan dan membacakannya. Perbedaan tulisan kami semua, (ada yang lucu, ada yang penuh makna, ada yang bercerita fiksi, ada yang ceritanya khayalan banget) membuktikan bahwa memang asosiasi pikiran setiap orang itu berbeda. Dengan tiga kata itu saja, bisa tercipta bermacam variasi tulisan ;)

Dan inilah tulisanku...

- - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -

Ngomong-ngomong tentang mata, sebagai salah satu organ tubuh kita yang tentunya seperti kita semua ketahui berfungsi untuk melihat, penting sekali bagi kita untuk menjaga kesahatannya.
Bisa dibayangkan, jika mata kita 'sakit', seperti kondisi mataku sekarang yang minusnya udah tinggi banget, akan mengganggu aktivitas sehari-hari.
Seperti yang aku rasakan saat ini, betapa kesulitannya aku saat 'kehilangan' kacamata. Entah itu lupa taruh dimana atau juga pecah karena jatuh bahkan patah karena kecerobohanku yang udah ga ketulungan. Saat-saat 'kehilangan' itu menjadi saat yang urgent banget karena segala sesuatu di sekelilingku menjadi buram.
Untungnya, di zaman sekarang dengan teknologi yang semakin canggih, kalo minusnya tebel si lensa bisa ditipisin sehingga tidak akan terlihat tebal. Kalo zaman dulu sih kacamatnya bisa jadi kelihatan kaya tutup botol. Haha :p
Kaya gini nih --> @.@
Maka dari itu penting sekali menjaga kesehatan mata kita. Penyesalan selalu datang belakang, karenanya jaga kesehatan mata kita dari sekarang. :)

- - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -

Saking cepatnya aku menulis, sampai-sampai ada kesalahan penulisan. Apa ada yang sadar?

Yup, seharusnya aku menulis 'pantat botol' dan bukannya 'tutup botol' -____-
*Hihi, apa jadinya kacamata kaya tutup botol? :))

Setelah sesi pertemuan kami kali ini selesai, dalam perjalanan pulang aku terus memikirkan ide lain dengan kata mata, botol, dan sakit. Mengingat betapa tiga kata itu saja bisa menciptakan berbagai macam bentuk tulisan, berbagai cerita.
Lalu muncul suatu adegan sederhana dalam benakku. Berikut jika adegan itu diterjemahkan ke dalam bentuk kata-kata :

"Tanganku mengaduk-aduk isi tas dengan terburu-buru, mencari sebuah botol kecil berisi cairan bening. Sementara rasa sakit seakan-akan menusuk mataku. Begitu kutemukan botol itu, aku membuka tutupnya cepat. Segera kudongakkan kepalaku dan meneteskan cairan bening di dalamnya. Kukerjap-kerjapkan mataku beberapa kali seraya meraih cermin di atas meja dan menghadapkannya ke arah wajahku. Aku membuka mata dan memperhatikan mataku yang kembali terlihat jernih. Rasa sakitnya pun mulai menghilang meski mataku masih berair. Aku menunjukkan obat tetes mata itu ke arah kamera dan berkata 'Menghilangkan perih, dalam sekejap!' Aku memasang senyum termanis hingga akhirnya terdengar suara sutradara berteriak 'CUT!'."

Rasanya ajaib sekali dengan tiga kata saja bisa muncul berbagai macam ide. Seringkali, kita merasa tak bisa menulis jika tak ada ide. Tapi sebenarnya, kita masih bisa menulis meski tak ada ide, yang tidak bisa itu jika ada ide tapi tak ada kemauan [@nulisbuku].

So, keep writing! ^^

抜き猫

11.16.2012

When I'm (Not) Perfect













Tulisan ini dibuat dalam rangka mengikuti Lomba Menulis yang  diadakan Penerbit Haru. Info: penerbitharu.wordpress.com



Aini berdiri diantara kerumunan, karena tubuhnya yang tinggi, tanpa begitu kesulitan ia menemukan namanya tercantum sebagai peringkat pertama di ujian semester kali ini, seperti juga ujian-ujian semester lalu.
Peringkat ini tentu tak didapatnya dengan mudah, ia berusaha mati-matian untuk memperolehnya. Seringkali ia tak tidur hanya untuk belajar, mengerjakan tugas-tugas sekolahnya yang menumpuk meskipun ia sebenarnya tak suka.

Ya, Aini memang tak begitu suka belajar. Ia lebih suka kegiatan yang berhubungan dengan seni. Sakura-sensei, guru seni di sekolahnya bahkan sering mengajaknya mengikuti berbagai perlombaan seni. Tapi, ia tak pernah sekalipun memenuhi ajakan itu.
Aini lebih mementingkan belajar, karena kalau ia pintar ia akan punya teman. Di sekolahnya yang dulu, hanya karena Aini tak pintar dalam pelajaran, tak ada seorangpun yang mau berteman dengannya. Sekolahnya dulu memang sekolah paling elit di Tokyo, hampir semua siswanya adalah siswa yang berniat masuk ke Universitas Tokyo. Aini sama sekali tak bisa mengejar ketertinggalannya dari teman-teman yang lain.

Sejak ayahnya dipindahkan ke kantor cabang di Osaka, ia pun memutuskan untuk mendapatkan nilai-nilai bagus dalam semua pelajaran. Ia harus bisa apa saja dan membuktikan bahwa ia akan punya banyak teman.
Terbukti, saat ia mendapatkan peringkat pertama bahkan sejak awal kepindahannya, banyak teman yang mendekatinya, meminta bantuannya, dan bersikap baik padanya. Kecuali, satu orang...
"Ai-chan..., omedetou*" seru Mai Kuroki, salah satu temannya dari depan kelas. Ia melambai-lambaikan tangannya ke arah Aini dengan semangat.
Aini berjalan cepat menghampirinya. Tak sengaja ia menabrak Seiko yang baru saja keluar dari dalam kelas. Sesaat, ia merasa seperti ditatap dengan tatapan yang seakan meremehkan.
Ia memandang ke arah Mai yang sepertinya melihat tatapan itu. "Kenapa dia?"
Mai mengangkat bahu. "Sepertinya ia iri denganmu..."
---

Sejak tatapan Seiko padanya waktu itu, Aini jadi bertanya-tanya. Jika apa yang dikatakan Mai benar, mungkin memang tak mengherankan jika Seiko merasa iri padanya. Karena dibandingkan dirinya yang mendapatkan peringkat 1 di setiap ujian semester, Seiko tak pernah sekalipun masuk dalam peringkat 50 besar. Dan bukan hanya itu, Aini baru tahu bahwa Shin, cowok yang dulu dekat dengan gadis itu kini malah akrab dengannya.
Aini mengamati Seiko yang duduk di pojok kelas, mengobrol dengan beberapa temannya. Tertawa lepas. Sejujurnya Aini kini merasa iri, karena sekalipun tak mendapat peringkat 1, Seiko masih memiliki teman untuk berbagi tawa.
Seperti merasa diamati, Seiko memandang ke arah Aini. Lalu mengalihkan pandangannya tak suka.
---

"Sei.., Seiko.." panggil Aini diantara barisan siswa yang bergegas pulang.
"Ada apa?" tanya Seiko begitu Aini berdiri di hadapannya.
"Kamu marah sama aku?" tanyanya langsung.
Dahi Seiko berkerut heran. "Ngga, kenapa aku harus marah sama kamu?"
Aini menjawab ragu. "Uhm.. karena Shin."
Seiko tertawa sinis. "Shin? Ngga ada alasan apapun yang bisa bikin aku marah sama kamu gara-gara Shin." jelasnya datar.
Aini kembali bertanya, kali ini dengan penuh keheranan. "Kalau gitu kenapa kamu keliatannya tak menyukaiku?"
Seiko mendengus pelan. "Begini ya Miss. Perfect. Hanya karena kamu bisa segalanya bukan berarti semua orang akan menyukaimu."
Sejenak Aini tak bisa berkata-kata. "Ta.. tapi.. kupikir orang-orang mau berteman denganku karena.. karena aku bisa segalanya? Karena aku pintar?" serunya.
Seiko mengedikkan bahunya. "Tapi hanya teman kan?" tanyanya balik.
Aini kembali bertanya tak mengerti. "Maksdumu?"
"Iya, teman. Teman yang hanya dekat denganmu hanya saat membutuhkanmu. Bukan sahabat yang menerimamu seutuhnya, apa adanya." jawab Seiko dengan nada menyindir, lalu berbalik pergi.
Aini merenung di tempatnya berdiri. Begitukah?
Kini ia merasa tindakannya selama ini salah. Ia punya teman hanya karena ia pintar, hanya karena ia selalu mendapat peringkat 1. Apa jadinya kalau ia tak pintar, tak meraih peringkat apapun? Mungkin saja sama seperti di sekolahnya yang dulu.
Tapi ia terlalu takut, takut jika ia tak sempurna tak akan ada yang mau menerimanya, bersahabat dengannya. Namun, bukankah begitu seharusnya persahabatan? Bukan hanya menerima orang lain, tetapi juga membiarkan diri kita diterima orang lain. Seburuk apapun itu.

おわり**

*omedetou = selamat
**owari = selesai

11.05.2012

Cinta Tanpa Kata [#FF2in1]

Kau menyentuhku, menatapku lembut.
Tatapan yang menyatakan seluruh rasamu untukku.
Lalu kau tersenyum, membuat seluruh duniaku jungkir balik.

Aku tahu tak perlu kata lagi di antara kita.
Aku menyukai keheningan di antara kita.
Keheningan dimana kita memiliki cara lain untuk menyatakan perasaan masing-masing.
Tanpa kata yang terucap. Tanpa sedikit suara pun terdengar.

Karena hanya dengan sentuhanmu, aku merasa.
Karena hanya dengan tatapanmu, aku tahu.

Aku hanya ingin terus merasakan hangatnya cintamu lewat sentuhan jarimu.
Aku hanya ingin terus merasakan luapan cintamu lewat tatapan matamu.

Karena aku mengerti, tak akan ada kata yang terucap.
Tak akan ada suara yang terdengar.
Sekalipun kau ingin, menyampaikan ribuan kata cinta.
Mendendangkan senandung lagu romantis.

Kukatakan padamu.
"Tak selalu butuh kata untuk menyampaikan cinta bukan?"

Dan aku meraih wajahmu, menciummu lembut.
Ketika mata kita bertemu, memandang dengan kehangatan yang sama.
Kita sama-sama tahu, perasaan yang terpancar disana.
Lebih dari sekedar kata-kata.


Karena Kau, Anugerah Terindah [#FF2in1]

Saat kau disisiku
Kembali dunia ceria
Tegaskan bahwa kamu
Anugerah terindah yang pernah kumiliki
(Anugerah terindah yang pernah kumiliki - Sheila On 7)

Aku tak butuh apapun. Aku hanya perlu kau tetap disisiku.

Melihat tawamu. Mendengar senandungmu.
Membelaiku lembut. Menatapku sejuk. Memelukku hangat.

Aku tak butuh apapun.

Kecuali hatimu yang tetap untukku.

Namun kau pegi, meninggalkanku.

Mengkhianati janjimu.
Janji setia bersama (berdua) sampai maut memisahkan.

Tak ada lagi tawamu. Tak ada lagi senandungmu.

Tak ada lagi belaian lembut. Tatapan sejuk. Pelukan hangat.

Tak ada lagi hatimu yang hanya untukku.


Kini aku harus membagi semua itu dengannya.

Dengan perempuan lain yang tiba-tiba datang.

Namun, meski begitu.
Aku masih mencintaimu.
Bahkan meski harus membagi dirimu dengan yang lain.

Karena kau, anugerah terindah yang pernah kumiliki.
Dan akan selalu begitu.

Selamanya.

10.03.2012

You, Only In A Frame [#FF2in1]

Aku menelusuri kedua jariku pada wajahmu yang tersenyum di atas selembar foto. Potret dirimu yang pertama kali kau berikan padaku.
Kau tak suka difoto katamu. Tapi aku selalu merasa wajahmu di foto terlihat manis.
Aku rasa aku beruntung, karena memiliki satu-satunya potret dirimu.
Foto ini menjadi harta yang tak terkira buatku, terutama saat ini.
Setelah kita terpisahkan oleh jarak. Saat kita bahkan tak bisa sekedar bertemu atau saling menyapa.
Memandangi wajahmu seperti ini cukup untuk menghilangkan sedikit rindu yang tak bisa kusampaikan, meski tak bisa mengapuskan sosokmu dari pikiranku.
Tak bisa bertemu denganmu seringkali membuatku nyaris gila. Aku melihat sosokmu dimana-mana, kau tak hanya hadir dalam mimpi-mimpiku setiap malam tapi juga menemaniku dalam ilusi setiap siang. Hari-hari selalu terasa berjalan lambat bagiku.
Kau tahu, aku selalu bisa merasakan setiap detik yang melewati menit. Setiap menit yang melewati jam. Setiap jam yang melewati hari.
Menghitung berapa banyaknya waktu yang harus kulewati hingga aku bisa bertemu lagi denganmu.
Kau tak tahu berapa lama. Begitu pula aku.
Aku hanya tahu aku akan kembali. Pasti.
Entah besok atau bahkan puluhan tahun lagi.
Hanya Tuhan yang tahu.
Karena kematian akan selalu menjadi rahasia-Nya.
Takdir-Nya.


Bandung, 2012

Pupus [#FF2in1]

Kau menyodorkan sebuah kertas biru bermotif bunga itu padaku dengan tiba-tiba. Senyuman bahagia terlihat jelas di wajahmu. Aku sudah bisa menebak apa itu. Namun aku tetap membiarkannya di atas meja. Menyangkal keberadaan undangan pernikahan yang kini jelas berada di depan mataku.
Menyadari aku tak sedikitpun bergeming,  kau kembali menaruh cangkir cappuccino itu di atas meja.
"Undangan pernikahanku." ujarmu memberi penjelasan, seolah aku bertanya. "Kau orang pertama yang menerima undangan ini." jelasmu lagi, membuatku merasa istimewa sebagai seorang sahabat.
Begitulah, buatmu aku hanyalah seorang sahabat. Tak lebih dari itu.
Aku memaksakan seulas senyum. "Aku pasti datang. Selamat ya."
Kau tersenyum lagi. Kembali meneguk secangkir cappuccino itu hingga habis.
Sementara aku meminum secangkir susu coklat hangat yang kini terasa pahit.
Diam-diam aku menahan sesak. Menahan air mata yang nyaris meluap.
Tidak tahukah kau telah lama aku menahan rasa. Menahan rindu yang selalu tak terkatakan.
Meski aku tahu kau sudah memiliki seseorang yang kau cintai, aku bahkan tak kuasa melupakanmu.
Seiring waktu berlalu perasaanku semakin tumbuh, semakin tinggi, berharap kau akan menoleh padaku.
Bertahun aku berharap suatu saat kau akan meninggalkannya dan memilihku.
Tapi semuanya berakhir hari ini.
Hari dimana kau menyerahkan undangan itu.
Tanpa sadar aku meneteskan air mata, seketika aku menahan isak tangis agar kau tak mendengarnya.
Tapi terlambat, karena kau langsung menyadarinya. Kau memandangku dari balik buku menu, heran. "Kau menangis?"
Aku menyusut air mataku dan memandangmu, memikirkan bahwa mungkin ini terakhir kalinya kita bisa bertemu berdua seperti ini, duduk berhadapan seperti ini, minum bersama. Kau dengan secangkir cappuccino dan aku dengan segelas susu coklat.
"Aku hanya terharu. Akhirnya kau menikah." jawabku menguatkan diri.
Kau lagi-lagi tersenyum, kemudian menyerahkan selembar tisu padaku.
"Suatu saat, kau juga akan menemukan seseorang." ujarmu seperti menenangkanku.
Aku tersenyum, pedih.

Aku sudah menemukannya, tapi ia telah memilih orang lain.
Orang itu kamu, dan kamu tak akan pernah tahu.

Bandung, 2012

3.23.2012

Menulis, Antara Skripsi dan Cerpen

aku suka menulis.

entah sejak kapan, menulis sudah menjadi hal yang tak bisa aku lepaskan.
menulis adalah jiwaku.

aku ingat, waktu masih jaman sekolah, tugas mengarang adalah satu-satunya tugas yang paling semangat untuk kukerjakan.

waktu smp aku sering membuat puisi, meski hanya kusimpan sendiri.
hanya sekali saja puisi ku di pajang di mading kelas. pujian dari guru bahasa indonesia kala itulah yang telah memacuku untuk terus menulis.

memasuki sma, aku mulai sedikit-sedikit menulis cerpen, dan bahkan novel, meski tak satupun yang selesai.

begitu terjun ke dunia kampus, seiring dengan kesibukan yang terus bertambah, dunia tulis menulis jadi sedikit "terbengkalai".
tapi, karena menulis sudah menjadi bagian yang tak bisa dilepaskan dari diriku, aku terus menulis meski hanya sesekali mengikuti lomba menulis cerpen, dan belum pernah lolos seleksi.

namun, itu tak membuat semangat menulisku surut.
menulis adalah duniaku.
dimana aku bisa membuat dunia-dunia baru.

dengan mengikuti lomba-lomba menulis cerpen dan semacamnya, tanpa sadar sudah ada beberapa cerpen yang selesai. :)

di tahun akhir kuliah, saat sedang sibuk-sibuknya menulis skripsi, beberapa saat setelah berita meninggalnya Whitney Houston..
@kampungfiksi mengadakan event menulis cerpen yang diberi nama #tributetoWhitney, dimana siapapun diundang untuk menulis cerpen berdasarkan lagu-lagu Whitney Houston.

aku yang rasanya udah lama banget ga nulis cerpen pun memutuskan untuk mengikuti event ini dengan penuh semangat ^^

di tengah-tengah sibuknya skripsi dan tenggat waktu pengumpulan cerpen yang tinggal sebentar, akhirnya aku berhasil menyelesaikan cerpen #tributetoWhitney kurang dari seminggu! pas 1200 kata... *buatku ini sudah prestasi tersendiri... :D
dan itu adalah cerpen tercepat yang aku selesaikan


lalu, setelah proses segala macam..
akhirnya, cerpenku di muat di buku The Greatest Love of All 2
*banzaii.. banzaii... \(^^)/

About Me

My photo
cat lover, japan addict, spy girl, paparazzi, the nocturnal, plegmatis, book eater, newbie teacher, single happy, travel writer wannabe;