Pages

3.29.2013

Aku, Musik, dan Vidi Aldiano

Sejak dulu, aku tak punya ketertarikan khusus dengan musik.
Meskipun waktu kecil memang sering denger lagu-lagunya penyanyi cilik tahun 90an, itu juga karena ibuku yang membelikan kaset-kasetnya.
Tapi, semenjak SMP, aku dan musik berada di wilayah yang berbeda.
Jangan tanya soal lagu-lagu terkenal masa itu atau siapa penyanyi favoritku. Waktu zaman SMP aku bisa dibilang bukan anak gaul, kerjanya cuman belajar sama baca komik.. :p

Memasuki SMA, karena ketertarikanku dengan Jepang, aku jadi menyukai lagu-lagu Jepang, meski tetap saja ga punya artis favorit. Aku cuman seneng aja sama lagu-lagunya yang enak didengar. :)

Aku sendiri tak menyangka kalau akhirya bisa tertarik dengan seorang penyanyi secara personal.
Dan penyanyi itu adalah Vidi Aldiano. ^^
Sejak secara kebetulan melihat video clip Nuansa Bening di tv, entah gimana aku tertarik begitu saja. Suaranya langsung saja mengalihkan perhatianku..



Aku yang tadinya ga tertarik nonton acara musik jadi sering nonton acara musik buat dengerin Vidi nyanyi. Haha :D
Love his voice! >_<

抜き猫

Mata, Botol, Sakit

Dua minggu yang lalu, seperti biasa kami (komunitas penulis @najmubooks) berkumpul. Tema yang kami bahas kali ini adalah menulis cepat dengan strategi tiga kata, dimana kami memilih tiga kata secara acak. Secara unik, kata yang terpilih adalah mata, botol, dan sakit.
Kami semua harus menulis apapun, dengan syarat harus ada kata mata, botol, dan sakit.
Kelihatan sulit untuk disambungkan, eh?
Kata siapa...

Akhirnya setelah waktu sepuluh menit berlalu, kami saling bertukar tulisan dan membacakannya. Perbedaan tulisan kami semua, (ada yang lucu, ada yang penuh makna, ada yang bercerita fiksi, ada yang ceritanya khayalan banget) membuktikan bahwa memang asosiasi pikiran setiap orang itu berbeda. Dengan tiga kata itu saja, bisa tercipta bermacam variasi tulisan ;)

Dan inilah tulisanku...

- - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -

Ngomong-ngomong tentang mata, sebagai salah satu organ tubuh kita yang tentunya seperti kita semua ketahui berfungsi untuk melihat, penting sekali bagi kita untuk menjaga kesahatannya.
Bisa dibayangkan, jika mata kita 'sakit', seperti kondisi mataku sekarang yang minusnya udah tinggi banget, akan mengganggu aktivitas sehari-hari.
Seperti yang aku rasakan saat ini, betapa kesulitannya aku saat 'kehilangan' kacamata. Entah itu lupa taruh dimana atau juga pecah karena jatuh bahkan patah karena kecerobohanku yang udah ga ketulungan. Saat-saat 'kehilangan' itu menjadi saat yang urgent banget karena segala sesuatu di sekelilingku menjadi buram.
Untungnya, di zaman sekarang dengan teknologi yang semakin canggih, kalo minusnya tebel si lensa bisa ditipisin sehingga tidak akan terlihat tebal. Kalo zaman dulu sih kacamatnya bisa jadi kelihatan kaya tutup botol. Haha :p
Kaya gini nih --> @.@
Maka dari itu penting sekali menjaga kesehatan mata kita. Penyesalan selalu datang belakang, karenanya jaga kesehatan mata kita dari sekarang. :)

- - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -

Saking cepatnya aku menulis, sampai-sampai ada kesalahan penulisan. Apa ada yang sadar?

Yup, seharusnya aku menulis 'pantat botol' dan bukannya 'tutup botol' -____-
*Hihi, apa jadinya kacamata kaya tutup botol? :))

Setelah sesi pertemuan kami kali ini selesai, dalam perjalanan pulang aku terus memikirkan ide lain dengan kata mata, botol, dan sakit. Mengingat betapa tiga kata itu saja bisa menciptakan berbagai macam bentuk tulisan, berbagai cerita.
Lalu muncul suatu adegan sederhana dalam benakku. Berikut jika adegan itu diterjemahkan ke dalam bentuk kata-kata :

"Tanganku mengaduk-aduk isi tas dengan terburu-buru, mencari sebuah botol kecil berisi cairan bening. Sementara rasa sakit seakan-akan menusuk mataku. Begitu kutemukan botol itu, aku membuka tutupnya cepat. Segera kudongakkan kepalaku dan meneteskan cairan bening di dalamnya. Kukerjap-kerjapkan mataku beberapa kali seraya meraih cermin di atas meja dan menghadapkannya ke arah wajahku. Aku membuka mata dan memperhatikan mataku yang kembali terlihat jernih. Rasa sakitnya pun mulai menghilang meski mataku masih berair. Aku menunjukkan obat tetes mata itu ke arah kamera dan berkata 'Menghilangkan perih, dalam sekejap!' Aku memasang senyum termanis hingga akhirnya terdengar suara sutradara berteriak 'CUT!'."

Rasanya ajaib sekali dengan tiga kata saja bisa muncul berbagai macam ide. Seringkali, kita merasa tak bisa menulis jika tak ada ide. Tapi sebenarnya, kita masih bisa menulis meski tak ada ide, yang tidak bisa itu jika ada ide tapi tak ada kemauan [@nulisbuku].

So, keep writing! ^^

抜き猫

11.22.2012

Menjadi 'Tua' ≠ Menjadi Dewasa

"Tua itu pasti. Dewasa itu pilihan."
Seperti yang acapkali dikatakan oleh sahabatku itu, bertambahnya umur tak selalu berarti bertambah dewasa.
Andaikan saja umur yang semakin bertambah disertai dengan kedewasaan yang juga bertambah, tentu rasanya tak akan sesulit ini.
Memasuki usia 23 rasanya aku ingin kembali ke masa kanak-kanak, ke masa dimana sepertinya aku tak memikirkan apapun kecuali sekolah dan bermain.
Memasuki usia 23, apalagi ditambah dengan sebuah titel sarjana, bagaikan memasuki dunia nyata.
Dimana aku seharusnya sanggup berpijak dengan kedua kakiku sendiri.

Namun faktanya, meski sudah memasuki usia 23 sedikit sekali perubahan kedewasaan yang terjadi pada diriku.

Menjadi dewasa (salah satunya) berarti menjadi lebih bertanggungjawab.
Sementara, seringkali aku lalai akan kewajibanku. Tak jarang pula aku menunda sesuatu hanya karena malas. Atau 'melarikan diri' dari apa yang seharusnya kuhadapi.

Memasuki usia 23, aku tahu bahwa diriku masih jauh dari sosok seseorang yang bisa disebut dewasa.
Aku merasa timpang. Karena, sungguh, aku masih ingin menjadi kanak-kanak sementara waktu terus berjalan -berlari bahkan-, tanpa kompromi.

Seperti yang tadi sudah kusebut, dewasa itu pilihan.
Dan untuk menjadi dewasa diperlukan perubahan.
Dan untuk berubah diperlukan kesadaran.

Kini, aku bediri di jalan yang penuh kebimbangan.
Sadar namun belum ingin berubah.
Tapi kalau tak mau berubah, sampai kapan aku akan ada disini?
Mempertanyakan kebimbanganku sendiri.

Andaikan saja umur yang semakin bertambah disertai dengan kedewasaan yang juga bertambah, tentu tulisan ini tak akan ada.

11.16.2012

When I'm (Not) Perfect













Tulisan ini dibuat dalam rangka mengikuti Lomba Menulis yang  diadakan Penerbit Haru. Info: penerbitharu.wordpress.com



Aini berdiri diantara kerumunan, karena tubuhnya yang tinggi, tanpa begitu kesulitan ia menemukan namanya tercantum sebagai peringkat pertama di ujian semester kali ini, seperti juga ujian-ujian semester lalu.
Peringkat ini tentu tak didapatnya dengan mudah, ia berusaha mati-matian untuk memperolehnya. Seringkali ia tak tidur hanya untuk belajar, mengerjakan tugas-tugas sekolahnya yang menumpuk meskipun ia sebenarnya tak suka.

Ya, Aini memang tak begitu suka belajar. Ia lebih suka kegiatan yang berhubungan dengan seni. Sakura-sensei, guru seni di sekolahnya bahkan sering mengajaknya mengikuti berbagai perlombaan seni. Tapi, ia tak pernah sekalipun memenuhi ajakan itu.
Aini lebih mementingkan belajar, karena kalau ia pintar ia akan punya teman. Di sekolahnya yang dulu, hanya karena Aini tak pintar dalam pelajaran, tak ada seorangpun yang mau berteman dengannya. Sekolahnya dulu memang sekolah paling elit di Tokyo, hampir semua siswanya adalah siswa yang berniat masuk ke Universitas Tokyo. Aini sama sekali tak bisa mengejar ketertinggalannya dari teman-teman yang lain.

Sejak ayahnya dipindahkan ke kantor cabang di Osaka, ia pun memutuskan untuk mendapatkan nilai-nilai bagus dalam semua pelajaran. Ia harus bisa apa saja dan membuktikan bahwa ia akan punya banyak teman.
Terbukti, saat ia mendapatkan peringkat pertama bahkan sejak awal kepindahannya, banyak teman yang mendekatinya, meminta bantuannya, dan bersikap baik padanya. Kecuali, satu orang...
"Ai-chan..., omedetou*" seru Mai Kuroki, salah satu temannya dari depan kelas. Ia melambai-lambaikan tangannya ke arah Aini dengan semangat.
Aini berjalan cepat menghampirinya. Tak sengaja ia menabrak Seiko yang baru saja keluar dari dalam kelas. Sesaat, ia merasa seperti ditatap dengan tatapan yang seakan meremehkan.
Ia memandang ke arah Mai yang sepertinya melihat tatapan itu. "Kenapa dia?"
Mai mengangkat bahu. "Sepertinya ia iri denganmu..."
---

Sejak tatapan Seiko padanya waktu itu, Aini jadi bertanya-tanya. Jika apa yang dikatakan Mai benar, mungkin memang tak mengherankan jika Seiko merasa iri padanya. Karena dibandingkan dirinya yang mendapatkan peringkat 1 di setiap ujian semester, Seiko tak pernah sekalipun masuk dalam peringkat 50 besar. Dan bukan hanya itu, Aini baru tahu bahwa Shin, cowok yang dulu dekat dengan gadis itu kini malah akrab dengannya.
Aini mengamati Seiko yang duduk di pojok kelas, mengobrol dengan beberapa temannya. Tertawa lepas. Sejujurnya Aini kini merasa iri, karena sekalipun tak mendapat peringkat 1, Seiko masih memiliki teman untuk berbagi tawa.
Seperti merasa diamati, Seiko memandang ke arah Aini. Lalu mengalihkan pandangannya tak suka.
---

"Sei.., Seiko.." panggil Aini diantara barisan siswa yang bergegas pulang.
"Ada apa?" tanya Seiko begitu Aini berdiri di hadapannya.
"Kamu marah sama aku?" tanyanya langsung.
Dahi Seiko berkerut heran. "Ngga, kenapa aku harus marah sama kamu?"
Aini menjawab ragu. "Uhm.. karena Shin."
Seiko tertawa sinis. "Shin? Ngga ada alasan apapun yang bisa bikin aku marah sama kamu gara-gara Shin." jelasnya datar.
Aini kembali bertanya, kali ini dengan penuh keheranan. "Kalau gitu kenapa kamu keliatannya tak menyukaiku?"
Seiko mendengus pelan. "Begini ya Miss. Perfect. Hanya karena kamu bisa segalanya bukan berarti semua orang akan menyukaimu."
Sejenak Aini tak bisa berkata-kata. "Ta.. tapi.. kupikir orang-orang mau berteman denganku karena.. karena aku bisa segalanya? Karena aku pintar?" serunya.
Seiko mengedikkan bahunya. "Tapi hanya teman kan?" tanyanya balik.
Aini kembali bertanya tak mengerti. "Maksdumu?"
"Iya, teman. Teman yang hanya dekat denganmu hanya saat membutuhkanmu. Bukan sahabat yang menerimamu seutuhnya, apa adanya." jawab Seiko dengan nada menyindir, lalu berbalik pergi.
Aini merenung di tempatnya berdiri. Begitukah?
Kini ia merasa tindakannya selama ini salah. Ia punya teman hanya karena ia pintar, hanya karena ia selalu mendapat peringkat 1. Apa jadinya kalau ia tak pintar, tak meraih peringkat apapun? Mungkin saja sama seperti di sekolahnya yang dulu.
Tapi ia terlalu takut, takut jika ia tak sempurna tak akan ada yang mau menerimanya, bersahabat dengannya. Namun, bukankah begitu seharusnya persahabatan? Bukan hanya menerima orang lain, tetapi juga membiarkan diri kita diterima orang lain. Seburuk apapun itu.

おわり**

*omedetou = selamat
**owari = selesai

11.05.2012

Cinta Tanpa Kata [#FF2in1]

Kau menyentuhku, menatapku lembut.
Tatapan yang menyatakan seluruh rasamu untukku.
Lalu kau tersenyum, membuat seluruh duniaku jungkir balik.

Aku tahu tak perlu kata lagi di antara kita.
Aku menyukai keheningan di antara kita.
Keheningan dimana kita memiliki cara lain untuk menyatakan perasaan masing-masing.
Tanpa kata yang terucap. Tanpa sedikit suara pun terdengar.

Karena hanya dengan sentuhanmu, aku merasa.
Karena hanya dengan tatapanmu, aku tahu.

Aku hanya ingin terus merasakan hangatnya cintamu lewat sentuhan jarimu.
Aku hanya ingin terus merasakan luapan cintamu lewat tatapan matamu.

Karena aku mengerti, tak akan ada kata yang terucap.
Tak akan ada suara yang terdengar.
Sekalipun kau ingin, menyampaikan ribuan kata cinta.
Mendendangkan senandung lagu romantis.

Kukatakan padamu.
"Tak selalu butuh kata untuk menyampaikan cinta bukan?"

Dan aku meraih wajahmu, menciummu lembut.
Ketika mata kita bertemu, memandang dengan kehangatan yang sama.
Kita sama-sama tahu, perasaan yang terpancar disana.
Lebih dari sekedar kata-kata.


Karena Kau, Anugerah Terindah [#FF2in1]

Saat kau disisiku
Kembali dunia ceria
Tegaskan bahwa kamu
Anugerah terindah yang pernah kumiliki
(Anugerah terindah yang pernah kumiliki - Sheila On 7)

Aku tak butuh apapun. Aku hanya perlu kau tetap disisiku.

Melihat tawamu. Mendengar senandungmu.
Membelaiku lembut. Menatapku sejuk. Memelukku hangat.

Aku tak butuh apapun.

Kecuali hatimu yang tetap untukku.

Namun kau pegi, meninggalkanku.

Mengkhianati janjimu.
Janji setia bersama (berdua) sampai maut memisahkan.

Tak ada lagi tawamu. Tak ada lagi senandungmu.

Tak ada lagi belaian lembut. Tatapan sejuk. Pelukan hangat.

Tak ada lagi hatimu yang hanya untukku.


Kini aku harus membagi semua itu dengannya.

Dengan perempuan lain yang tiba-tiba datang.

Namun, meski begitu.
Aku masih mencintaimu.
Bahkan meski harus membagi dirimu dengan yang lain.

Karena kau, anugerah terindah yang pernah kumiliki.
Dan akan selalu begitu.

Selamanya.

10.03.2012

You, Only In A Frame [#FF2in1]

Aku menelusuri kedua jariku pada wajahmu yang tersenyum di atas selembar foto. Potret dirimu yang pertama kali kau berikan padaku.
Kau tak suka difoto katamu. Tapi aku selalu merasa wajahmu di foto terlihat manis.
Aku rasa aku beruntung, karena memiliki satu-satunya potret dirimu.
Foto ini menjadi harta yang tak terkira buatku, terutama saat ini.
Setelah kita terpisahkan oleh jarak. Saat kita bahkan tak bisa sekedar bertemu atau saling menyapa.
Memandangi wajahmu seperti ini cukup untuk menghilangkan sedikit rindu yang tak bisa kusampaikan, meski tak bisa mengapuskan sosokmu dari pikiranku.
Tak bisa bertemu denganmu seringkali membuatku nyaris gila. Aku melihat sosokmu dimana-mana, kau tak hanya hadir dalam mimpi-mimpiku setiap malam tapi juga menemaniku dalam ilusi setiap siang. Hari-hari selalu terasa berjalan lambat bagiku.
Kau tahu, aku selalu bisa merasakan setiap detik yang melewati menit. Setiap menit yang melewati jam. Setiap jam yang melewati hari.
Menghitung berapa banyaknya waktu yang harus kulewati hingga aku bisa bertemu lagi denganmu.
Kau tak tahu berapa lama. Begitu pula aku.
Aku hanya tahu aku akan kembali. Pasti.
Entah besok atau bahkan puluhan tahun lagi.
Hanya Tuhan yang tahu.
Karena kematian akan selalu menjadi rahasia-Nya.
Takdir-Nya.


Bandung, 2012

Pupus [#FF2in1]

Kau menyodorkan sebuah kertas biru bermotif bunga itu padaku dengan tiba-tiba. Senyuman bahagia terlihat jelas di wajahmu. Aku sudah bisa menebak apa itu. Namun aku tetap membiarkannya di atas meja. Menyangkal keberadaan undangan pernikahan yang kini jelas berada di depan mataku.
Menyadari aku tak sedikitpun bergeming,  kau kembali menaruh cangkir cappuccino itu di atas meja.
"Undangan pernikahanku." ujarmu memberi penjelasan, seolah aku bertanya. "Kau orang pertama yang menerima undangan ini." jelasmu lagi, membuatku merasa istimewa sebagai seorang sahabat.
Begitulah, buatmu aku hanyalah seorang sahabat. Tak lebih dari itu.
Aku memaksakan seulas senyum. "Aku pasti datang. Selamat ya."
Kau tersenyum lagi. Kembali meneguk secangkir cappuccino itu hingga habis.
Sementara aku meminum secangkir susu coklat hangat yang kini terasa pahit.
Diam-diam aku menahan sesak. Menahan air mata yang nyaris meluap.
Tidak tahukah kau telah lama aku menahan rasa. Menahan rindu yang selalu tak terkatakan.
Meski aku tahu kau sudah memiliki seseorang yang kau cintai, aku bahkan tak kuasa melupakanmu.
Seiring waktu berlalu perasaanku semakin tumbuh, semakin tinggi, berharap kau akan menoleh padaku.
Bertahun aku berharap suatu saat kau akan meninggalkannya dan memilihku.
Tapi semuanya berakhir hari ini.
Hari dimana kau menyerahkan undangan itu.
Tanpa sadar aku meneteskan air mata, seketika aku menahan isak tangis agar kau tak mendengarnya.
Tapi terlambat, karena kau langsung menyadarinya. Kau memandangku dari balik buku menu, heran. "Kau menangis?"
Aku menyusut air mataku dan memandangmu, memikirkan bahwa mungkin ini terakhir kalinya kita bisa bertemu berdua seperti ini, duduk berhadapan seperti ini, minum bersama. Kau dengan secangkir cappuccino dan aku dengan segelas susu coklat.
"Aku hanya terharu. Akhirnya kau menikah." jawabku menguatkan diri.
Kau lagi-lagi tersenyum, kemudian menyerahkan selembar tisu padaku.
"Suatu saat, kau juga akan menemukan seseorang." ujarmu seperti menenangkanku.
Aku tersenyum, pedih.

Aku sudah menemukannya, tapi ia telah memilih orang lain.
Orang itu kamu, dan kamu tak akan pernah tahu.

Bandung, 2012

6.23.2012

#Xpressive, A Fantastic Public Speaking Training

Apa itu #Xpressive?
#Xpressive adalah training public speaking yang diadakan oleh @Fantastic_Inc, sebuah perusahaan yang bergerak –tentunya bisa ditebak– dalam bidang public speaking, lebih tepatnya public speaking school and talent management.


Kenapa aku tertarik untuk mengikuti #Xpressive? (Yang pada akhirnya nanti akan menjadi “Kenapa kalian harus mengikuti #Xpressive” :D )

Pertama, dan yang paling penting, karena aku merasa bahwa public speaking adalah suatu kemampuan yang harus aku miliki untuk mendukung pekerjaan, aktivitas, dan bahkan -tanpa disadari- dalam kehidupan sehari-hari.
Karir apa yang tak membutuhkan public speaking?

Kedua, karena training public speaking nya #Xpressive keliatannya menarik. Cuma 30000 pula. Biasanya berapa coba untuk ikutan training public speaking ? :D

Ketiga, aku merasa perlu banget ngobatin 'demam panggung' yang seringkali menyerang saat akan tampil di depan umum. Kalo bisa diobatin di rumah sakit mungkin aku udah masuk UGD.

Akhirnya, setelah tertunda selama berminggu-minggu, hari ini aku ikutan juga #Xpressive batch 7, dengan memanfaatkan voucher 20% yang aku dapat malem sebelumnya.. *lumayaaan... ;p

Selain aku ada 3 orang lagi yang ikut training hari ini. Ada Hilda (anak pend. b. inggris 2008), Ricky (anak ilkom 2007), dan Fani (anak kimia ITB 2007). Ada pula Reza, trainee #Xpressive batch 3 (eh, batch 3 ya kalo ga salah? *mikir), yang ikutan nonton training kita.
(Sayang, ngga ada foto bareng-bareng nih, jadi ga bisa dilampirin).

Lalu, #Xpressive pun dimulai dengan pre-test. *Yup, pre-test bukan cuma ada untuk penelitian nya anak-anak pendidikan di sekolah.
Berhubung ini adalah training public speaking, sudah pasti pre-test nya public speaking.
Tema yang harus di public speaking-in adalah "tell me your stories".

Ya, aku ceritalah tentang nama, tentang jurusan, tentang hobi, tentang Book Eaters, sampe promosi kue kering buat lebaran. hahaha, numpang promosi banget ini...

Jreng.. jreeenggg..., #Xpressive pun memasuki babak utama. ^^
Semua tentang basic public speaking pun dikupas satu per satu. Apa itu 5W1H Public Speaking, Passion, Be Yourself, Out of The Box, Total Vocal, Act Natural, dan juga Antusias (*nyontek rundown).

Tiap-tiap materi disampaikan dengan sederhana, tapi ngena. Training pun terasa lebih personal karena jumlah trainee yang sedikit. Kebetulan cuma 4 orang aja kita, maksimal 15 orang tiap batch.
(Buat yang pengen ikutan masih ada kok batch-batch selanjutnya).
Selain itu juga menyenangkan karena ada games-games seru yang menghibur. Sesuai deh sama di pamflet nya, "2,5 jam yang simple, tight, fun, and fresh".

Tapi ya.., selain materinya yang memang menarik, kalo trainer nya ngga bisa menyampaikannya dengan baik, training nya ngga akan begitu menarik.
Bayangin aja kalo kamu ikutan training tapi trainer nya ngomongnya ga jelas (sampe kita bingung dia ngomong apa kumur-kumur), atau ngomongnya kecepetan (sampe bikin kita bilang 'hah?' berkali-kali), atau ngomongnya ga berhenti-berhenti (sampe bikin kita yang ngeliatnya aja jadi cape).

Acaranya #Xpressive, trainer nya juga #Xpressive.
Ini nih trainer nya >> @Fantastic_HaKi

Ga nyesel deh ikutan #Xpressive. Banyak banget yang aku dapet hari ini.

Aku dapet jurus baru. Namanya jurus Hu-Ha. Pertama denger nama jurus ini bikin ketawa banget lah, soalnya nama jurusnya sama dengan nama suku di cerita teater yang dipentasin adik aku. *Hu Ha Hu Ha :3 :D
Jurus Hu-Ha ini salah satu jurus bernapas dengan perut. Kalo mau tau detail nya mending ikutan aja deeh.. :)

Terus yang utama adalah gimana cara mengobati si 'demam panggung'.
Mulai sekarang aku akan coba meninggalkan si 'demam panggung' hanya di 'belakang panggung'. Biar aku saja, tanpa dia, yang ada di 'atas panggung'. (Istilah panggung disini ga mesti berarti selalu bermakna benar-benar di atas panggung, tapi dimaksudkan saat berbicara di hadapan orang lain).

Jadi, maaf ya 'demam panggung', aku ga akan ajak kamu lagi ke 'atas panggung'.
Kamu tenang-tenang aja di belakang, nanti kalo udah selesai aku jemput. :) *menyugesti diri sendiri.

Ikutan #Xpressive ini menjawab semua pertanyaan-pertanyaan aku tentang public speaking yang tak terkatakan. Rasanya bakalan asik banget kalo ada lanjutannya lagi. *menanti...

Satu yang aku lupa, dan bahkan baru aku inget ketika menulis ini, ada satu pertanyaanku yang belum terjawab. Pertanyaan tentang ice breaking.
Tapi, itu bisa ditanya nanti kali yaa.. Kan, ada FREE konsultasi setelah training. :D

Pokonya, #Xpressive is A Fantastic Public Speaking Training.
Yes, speaking isn't just about being impressive. It's more like being #Xpressive.

Thanks to @Fantastic_Inc, and also @FantasticHaKi

So, what are you waiting for? Daftar sekarang!

About Me

My photo
cat lover, japan addict, spy girl, paparazzi, the nocturnal, plegmatis, book eater, newbie teacher, single happy, travel writer wannabe;