Pages

6.04.2014

for you, for the last




karena,
seperti air yang menguap
ia sebenarnya tidak menghilang
ia hanya berubah wujud

dan

seperti bumi
yang terkadang merindukan hujan
aku juga
terkadang masih merindukanmu




抜き猫

4.27.2014

Sayounara Ojiisan

Semasa kecil, saya jarang sekali bertemu kakek dan tidak begitu mengingat sosoknya. Sosok kakek yang pertama sekaligus yang paling membekas dalam benak saya dimulai sekitar sepuluh tahun lalu.
Kala itu, saya yang masih duduk di bangku SMA beserta salah satu adik saya mulai diajari matematika secara rutin oleh kakek (yang dulunya merupakan guru dan dosen matematika) setiap hari minggu. Suatu hal yang luar biasa karena saat itu kakek sudah memasuki usia 80an.
Secara rutin diajari matematika oleh kakek, saya jadi tahu bahwa kakek adalah orang yang mengajari dengan sabar, detail, dan perlahan-lahan. (Walaupun karena terlalu perlahan terkadang menyebabkan saya jadi mengantuk). Meski begitu, berkat rajin belajar bersama kakek, saya jadi lebih mengerti matematika dan mulai menganggap matematika jadi lebih menyenangkan.
Mengingat sosok kakek yang seperti itu membuat saya tidak bisa membayangkan ketika ada yang bercerita bahwa kakek adalah orang yang disiplin, tegas, dan "keras" ketika mengajar di sekolah. Sosok kakek yang mungkin tidak saya ketahui. Namun, meski tak sedikit yang mengatakan kakek adalah guru yang "galak", kakek adalah guru yang selalu dikenang oleh murid-muridnya.
Selain ibu, kakek adalah panutan saya dalam mengajar dan mendidik siswa, profesi yang saya tekuni sekarang.
Setelah saya menyelesaikan pendidikan SMA dan melanjutkan kuliah, saya mulai berhenti belajar matematika karena bidang yang saya ambil bukanlah matematika. Tapi, kakek melanjutkan mengajar matematika pada dua adik saya yang lain. Kemudian, kakek jatuh sakit.
Awalnya hanya sakit kaki. Kakek yang awalnya bisa berjalan normal, bahkan masih bermain tenis, mulai berjalan dengan bantuan tongkat. Waktu berlalu, kakek mulai tidak bisa berjalan dan menggunakan kursi roda. Hingga akhirnya tidak bisa terlalu banyak bergerak dan hanya bisa berbaring di atas kasur.
Berkali-kali bolak-balik masuk rumah sakit, kian hari penyakitnya pun semakin parah.
Selama tiga tahun sakit, kami selalu merayakan ulang tahun kakek, melewati tiap tahunnya dengan harapan kakek bisa sembuh.
Saya masih ingat, sewaktu sehat dulu kakek sering bilang dengan bangga mengenai usianya yang panjang. Karena di keluarga kakek belum pernah ada yang usiannya mencapai 90an.

Kini, tahun 2013 telah menjadi tahun terakhir kami sekeluarga merayakan ulang tahun kakek bersama-sama.

Karena, pada tanggal 24 April 2014, di usianya yang ke 92 kakek meninggal dunia.


Sayounara Ojiisan (Selamat Tinggal Kakek)
Sosokmu akan selalu kami kenang dan kami jadikan teladan.
Do'a kami menyertaimu.


抜き猫

4.16.2014

Though I...

Blog post ini dibuat dalam rangka mengikuti Proyek Menulis Letters of Happiness : Share your happiness with The Bay Bali & Get discovered!

Aku memalingkan wajah ketika kedua pasangan yang saling berbahagia itu bertukar cincin. Tak seorang pun akan menyadari pandanganku yang beralih, karena orang-orang lain jelas bersikap antusias dengan sorot mata bahagia, seolah ini pernikahan mereka. Tanpa perlu melihat pun aku sudah tahu apa yang akan terjadi selanjutnya, keduanya akan berciuman sebagi tanda sahnya pernikahan mereka. Melihatnya secara langsung, tentu saja, hanya akan membuat hatiku semakin menangis.
Ketika semua orang berdiri dan berjalan semakin mendekat ke altar, menanti buket bunga pengantin yang akan dilempar sang mempelai wanita, aku berjalan perlahan meninggalkan kerumunan, menapaki batu-batu alam menuju pantai yang terlihat dibalik deretan pepohonan. Bibirku sesekali tersenyum, menyapa orang-orang yang bertatapan denganku. Entah aku mengenalnya ataupun tidak, sepertinya bibirku secara otomatis melengkung ketika bertatapan dengan orang lain. Mengerikan membayangkan bahwa tindakanku ini sudah menjadi sebuah kebiasaan tanpa aku sadari.
Semakin aku mendekati pantai, semakin sedikit orang-orang yang kutemui. Suara hiruk pikuk terdengar ramai di belakangku, namun yang kudengar, yang ingin kudengar, hanyalah debur ombak di depan sana. Aku dapat mencium bau garam yang terbawa angin, menyadarkanku laut semakin mendekat. Sepoi angin melambaikan sundress kuning gading selutut yang kukenakan, membelai lembut tubuhku yang kepanasan karena sinar matahari yang mendadak terasa begitu terik.
Atau mungkin justru hatiku?
Begitu pepohonan semakin jarang dan kakiku menjejak pasir yang begitu putih, aku bisa melihat lautan biru menghampar luas di hadapanku. Laut yang terlihat luas tak berujung dan langit yang membentang sampai jauh membuatku merasa dunia ini milikku. Membuatku merasa sendirian, sekalipun banyak orang berkumpul di tepi pantai. Dan aku merasa, akhirnya, bisa bernapas lega. Tanpa ada siapapun yang kukenal di sekitarku. Tanpa ada orang yang harus kutipu dengan senyum ramah atau basa-basi hangat.
Tempatku akhirnya bisa menangis, sendirian.
Kukira begitu, sampai seseorang muncul dan menghancurkan anganku begitu saja. Aku berbalik dan segera menyunggingkan senyum, senyum lebar yang sesungguhnya memintanya pergi.
Sungguh, aku sudah lelah.
“Tidak menginginkan buket bunganya?” tanyanya setelah membalas senyumku, jelas sekali ia tidak menyadari arti dibalik senyum yang kusunggingkan barusan.
“Tidak juga, kenapa harus?” jawabku tanpa sedikitpun menurunkan sudut lengkung bibirku, sekedar bersikap ramah. Meskipun sebenarnya aku tidak begitu mengenal lelaki yang mengajakku bicara ini.
“Well, it’s your best friend wedding’s party, isn’t it?” tanyanya dengan nada yang seperti berkata ‘seharusnya-tak-perlu-dipertanyakan-lagi’.
Lelaki bernama Verrell ini sungguh membuatku tertawa, “So, how about you Ve?” Aku tak tahan untuk bertanya, karena sang mempelai pria yang merupakan sahabatku  itu adalah sepupunya. Tanpa kuduga, matanya seketika lekat menatap kedua bola mataku. Tatapannya yang seolah bisa melihat langsung ke dalam hatiku itu membuatku jengah, membuatku langsung saja berpaling. Tanpa sempat berpikir bahwa tindakanku itu kurang sopan.
Sayangnya, apa yang berikutnya memasuki penglihatanku malah membuatku semakin jengah. Laki-laki di altar itu tengah menggandeng mesra wanita yang kini telah resmi menjadi istrinya. Keduanya berjalan saling bertatapan menuruni altar, bunga-bunga seakan bermekaran di sekeliling mereka. Sementara para pemain musik mengiringi mereka dengan musik khas pernikahan yang buatku terdengar seperti musik kesedihan.
“Apa kamu menyesal Lun?” Verrell tiba-tiba bertanya lagi, membuatku menoleh terperangah, sepertinya lelaki ini tak juga berniat untuk berhenti mengusikku. Aku baru saja akan menjawab tidak, ketika Verrell berkata tanpa melepaskan pandangannya dariku, “Kurasa kamu memang menyesal.”
“Tidak,” jawabku segera, menyangkal pernyataannya yang tak ingin kuakui, “Tentu saja tidak. Aku turut berbahagia dengan pernikahannya.” Aku berusaha keras memandang matanya, menjawabnya dengan senyuman lebar. Tapi, saat menemukan matanya aku tahu ia menyadari kebohongan yang kukatakan.
“Kenapa aku harus menyesal?” tanyaku, mempertahankan diri dari matanya yang seolah bisa membongkar semua kebohonganku.
Verrell terdiam, sepertinya bukan karena tidak bisa menjawab pertanyaanku tapi ia sengaja membuat jeda untuk menekankan perkataannya. Ia mengalihkan tatapannya dan memandang kedua mempelai itu, “Karena kamu mencintainya,” ia berkata tanpa keraguan, seperti membicarakan perasaannya sendiri.
Ia sepenuhnya benar dan aku tak mengerti bagaimana dia bisa tahu, tapi aku tak akan semudah itu mengakui perasaanku di depan seseorang yang tak begitu kukenal. Tidak seorang pun pernah tahu aku mencintainya, bahkan orang yang paling dekat denganku sekalipun.
“Of course not,” aku tertawa meski hatiku jelas masih menangis, “Why do you think like that?” Masih tertawa, aku memandangnya penuh selidik. Tapi ia tidak ikut tertawa, sesungging senyum pun tidak,  ia memandangku dengan raut wajah yang tak bisa kutebak apa artinya.
 Aku segera saja terdiam, tak berkutik di bawah tatapannya. Baru kali ini ada seseorang yang dengan mudahnya menebak apa yang kurasakan. Padahal kami hanya pernah bertemu beberapa kali, ketika aku membantu mempersiapkan pernikahan sahabatku ini. Aku tidak mengerti bagaimana ia bisa mengetahui semua tentang diriku padahal selama ini aku selalu berhasil menutup diriku dari orang-orang lain.
“Luna!” seruan itu tiba-tiba mengagetkanku, seketika aku menoleh pada pasangan yang semakin mendekati tempat kami berdiri. Aku langsung tersenyum lebar, sosoknya saat ini sungguh terlihat begitu memikat. Sungguh beruntung sekali istrinya, diam-diam aku berharap akulah yang ada di sampingnya. Impian yang tak mungkin jadi nyata.
Ketika keduanya benar-benar berada di hadapan kami, Chris berbisik di telingaku, “Thanks for make it happen Lun.” Perkataannya memilukan hatiku, namun aku hanya bisa tersenyum.
“You make it Chris, not me. Congratulation,” ujarku, lalu menatap wanita di sampingnya,  “Selamat, semoga kalian selalu berbahagia.”
Seketika Giselle memelukku, “Thank you so much Lun, kamu sudah membuat pernikahan impianku jadi nyata. Aku sangat-sangat berterima kasih.” Aku tak tahu harus bereaksi bagaimana menanggapi ucapan terima kasih yang jelas-jelas penuh kebahagiaan itu, jadi aku hanya balas memeluknya, menjawabnya dengan sederhana.
 “Sama-sama.”
Aku bisa membuat pernikahan ini menjadi pernikahan yang sesuai dengan impiannya, karena seperti inilah aku memikirkan pernikahan impianku. Pernikahan yang tadinya kuimpikan jika aku nanti menikah. Aku membayangkan sebuah pernikahan di tepi pantai dengan desir ombak mengiringi pernikahanku dan cahaya matahari menerangi kami berdua, seolah memberkati pernikahan kami. Aku merasa ajaib ketika tahu bahwa The Bay Bali bisa saja membuat impianku jadi nyata.  
And it is, really. Seandainya akulah yang menikah hari ini. Aku jadi merasa begitu bodoh membuat pernikahan impianku menjadi nyata untuk orang yang aku cintai tapi bukan aku yang menjadi pasangannya.
Giselle melepaskan pelukannya padaku, lalu menatap Chris dengan air mata bahagia. Keduanya kembali bergandengan tangan, “Nikmati pestanya Lun,” seru Chris lalu menatap Verrell. Lelaki itu menepuk bahu Chris penuh persahabatan sebagi ucapan selamat, lalu keduanya beranjak pergi, menyapa tamu-tamu lain.
Mataku memandang sosok kedua pengantin yang semakin menjauh, tak juga beralih meski rasanya menyakitkan. “You really love him, aren’t you?” Verrell berkata lirih, “I know.”
Yes, I am, bisikku. Dan detik itu pertahananku runtuh, air mata seketika tertumpah dari mataku. Lagu Happy 2NE1 bermain begitu saja dalam benakku.
The sadness over you Bye Bye Bye
Since you need to be without me to be happy
Without you I’m not Happy but I hope you’re happy
I’ll watch over you from afar
Without you I’m not happy but I hope you’re happy
Live happily once forgetting me
I hope you’re happy
Live happily once forgetting me
I wish you’re happy
I though we had it together but well

  Aku menarik napas, berusaha mengusir sesak yang memenuhi rongga hatiku. Verrell sama sekali tidak beranjak dari sisiku, dengan lembutnya ia berkata. “Menangislah kalau ingin menangis Lun. Biarkan perasaanmu lepas.”
Aku menghembuskan napasku, “How do you know Ve?” tanyaku tak mengerti.
Verrell memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana dan menatapku tepat di bola mata. “Karena aku selalu memperhatikanmu,” ucapnya tegas.
Aku memandangnya tak mengerti.
“I love you Lun,” ungkapnya, “Sejak pertama kita bertemu.”


抜き猫

9.16.2013

CPD dan Shikat Miring!

Sebelum kita masuk ke inti cerita, rasanya perlu saya jelasin dikit tentang CPD dan "Shikat Miring!".
CPD merupakan singkatan dari Camping Pendidikan Dasar, yang merupakan bagian dari kegiatan orientasi siswa yang biasa disebut MOS (buat yang se-zaman sama saya), atau kalau disesuaikan dengan zaman sekarang bisa disebut MOPD (Masa Orientasi Peserta Didik) atau MPLS (Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah). Nah, kegiatan CPD ini baru saja diselenggarakan minggu lalu di sekolah tempat saya bekerja, dimana acaranya diselenggarakan malam hari.
Lalu, apa itu "Shikat Miring!"? Buat yang baru denger mungkin dari namanya saja sudah terdengar aneh, belum lagi dengan penambahan huruf 'h' diantara 's' dan 'i'. Nah, kalo untuk soal yang satu ini kayanya Mas Danang sama Mas Darto lebih tau. Jadi silakan nonton (atau youtubing) aja The Comment di Net Tv. :D
Caution! : Ada baiknya kalian tau dulu apa itu Shikat Miring sebelum membaca tulisan di bawah ini. Supaya lebih 'ngena' gitu.

Ok. Jadi cerita ini dimulai minggu lalu, pada suatu sore yang cerah (kalo ngga mau disebut panas).
Sesuai dengan yang telah direncanakan, kami para panitia CPD (terdiri dari anggota OSIS dan guru muda *ehem) bersiap-siap untuk pergi ke lokasi. Saya yang tahun lalu jadi tim medis, sama sekali ngga nyangka sekarang diminta untuk jagain pos. Buat yang pernah ngalamin CPD atau Pelantikan Anggota pasti ada kan kegiatan malem-malem yang keliling dari satu pos ke satu pos lain buat ngelaksanain misi?
Nah, saya diminta sama salah satu anggota OSIS untuk jaga di Pos 1 bareng sama dua orang anggota OSIS, sebut saja A dan R (belum ada izin untuk mempublikasikan nama),  yang bikin saya agak kaget karena udah berasumsi cuma bakalan jadi tim medis aja.

Singkatnya, kami tiba di tempat perkemahan yang jaraknya tak begitu jauh dari sekolah.
Malam pun menjelang. Setelah makan malam, R, salah satu anggota OSIS yang sama-sama jagain pos 1 bareng saya ngajak diskusi soal pertanyaan yang nanti akan diberikan dan hukumannya kalau mereka ngga bisa jawab.
Pertanyaan selesai dibahas, dan untuk hukuman R menyarankan untuk jalan bebek sambil nyanyi Potong Bebek Angsa, yang menurut saya agak kurang 'wah'. Awalnya terbersit sebuah ide dalam kepala saya untuk memberikan hukuman 'Goyang Caesar' yang populer waktu Ramadhan kemarin. Tapi karena saya sendiri tidak tahu seperti apa bentuk goyang tersebut (karena hanya mendengar cerita dari sepupu saya yang selalu nonton acara itu pas sahur), jadinya ide itu saya cancel.
Mendadak, entah datang darimana dan bagaimana, "Shikat Miring!" tiba-tiba saja muncul dalam benak saya. Sebelum saya sempat memproses ataupun memikirkan kembali ide tersebut, mulut saya langsung saja melontarkan ide untuk memberikan hukuman berupa "Shikat Miring!" pada R, yang diluar dugaan, merespon ide itu dengan terlalu baik.
Dengan semangat 45 dia memanggil A yang kebetulan banget tau tentang "Shikat Miring!". Saat itu saya merasa telah salah bicara. Oh Noooo~

Karena sudah terlanjur basah, akhirnya saya malah ikut semangat ngebahas rencana tersebut. Kami bahkan merencanakan latihan singkat "Shikat Miring!" saat pengecekan lokasi pos. Sayangnya latihan tersebut terpaksa dibatalkan karena kami cek lokasi pos rame-rame sama penjaga pos lain. Jadinya kami hanya berlatih dialog "Shikat Miring!" di rumah kecil tempat para panitia berkumpul.

Finally, pertunjukan dimulai!
Sekitar jam 11 malam kami sudah berjaga di pos. Posnya berupa saung kecil di dekat sawah, di dalam hutan yang dikelilingi pohon. Ditemani sebatang lilin yang berpendar dan keripik kentang rasa balado, kami latihan "Shikat Miring!" kecil-kecilan yang membuat kami bertiga tak hentinya tertawa karena segala kekonyolan "Shikat Miring!" ini. Ide siapa sih ini?



Oke, saya yang ngasih ide.

Menit demi menit berlalu dan belum ada satupun kelompok peserta yang muncul (satu kelompok terdiri dari 6-9 orang). Sambil menunggu, saya merebahkan diri di saung, merasakan dinginnya udara di tengah alam yang pada akhirnya membuat saya tertidur.

1 jam kemudian, saya dibangunkan karena tanda-tanda kelompok peserta pertama sudah terlihat.
Saya berdiri dan bertanya-tanya dalam hati, Benarkah saya harus melakukan ini?. Meski merasa ini memalukan, tapi keinginan saya untuk membuat hukumannya 'menarik' akhirnya memantapkan keinginan saya untuk meneruskan misi ini.
The show must go on, guys~

Kelompok peserta pertama tiba di hadapan kami.
Akhirnya, setelah melontarkan beberapa pertanyaan dan dijawab dengan kurang memuaskan, hukuman "Shikat Miring!" pertama pun dijatuhkan. Herannya, tak ada satu orang pun yang tahu 'tarian' ini. Jadi, saya, R, dan A memperagakan gerakan-gerakan ini satu kali dan nantinya harus dicontoh oleh mereka. Berikut langkah-langkah melakukan "Shikat Miring!" versi kami :
Pertama, satukan kedua telapak tangan (seperti posisi memberi salam) dan letakkan di depan dada, lalu ucapkan "Pertama niatkan, kalau belum sanggup ya sanggupin!" sambil mengepalkan kedua tangan dan menariknya seperti mengatakan "Yes!"
Berikutnya ucapkan "Kalau udah sanggup langsung di sundul sayang~," (menggerakkan kepala seperti menyundul bola ke arah kanan). "Kecup manja...," (menggerakkan kepala ke kiri dan memajukan bibir seperti ingin mencium disertai suara kecupan, mmuah~).
Langsung ucapkan, "Iris tipiiiiis," (menggerakkan lengan kanan dibawah lengan kiri seperti mem-fillet ikan). "Potong maniiiiis," (menggerakkan tangan kanan diatas lengan kiri seperti memotong buncis).
Terakhir, rentangkan kedua lengan dan tekuk kaki kiri ke depan lalu ucapkan "Shikat Miring!"

Uhuk. Selesai menulis tutorial barusan saya masih merasa malu. Bangeeeet.
Tidaaak, apa yang saya lakukaaan? *gali lubang dan sembunyi.

Peserta berikutnya dan berikutnya dan berikutnya lagi datang, hukuman "Shikat Miring!" pun dijatuhkan bertubi-tubi, membuat saya menggali lubang imajinasi semakin dalam. Peserta terakhir akhirnya berlalu dan saya merasa seperti kepiting rebus.
Kembali ke rumah kecil kami, menertawakan kekonyolan yang baru saja kami lakukan sembari menunggu para peserta kembali. Topik "Shikat Miring!", entah bagaimana menjadi populer. Hingga membuat salah seorang guru yang belum tahu langsung mencarinya saat itu juga melalui youtube. Sampai para peserta membahasnya bahkan setelah kembali ke lokasi kemping. Dan bahkan masih tetap populer hingga saat tulisan ini saya buat, mungkin hingga esok, minggu depan, bulan depan, dan bisa jadi, tahun depan.

Beberapa anggota OSIS yang tahu tentang pertunjukan"Shikat Miring!" yang kami lakukan di pos 1 dan tidak tahu bagaimana 'wujudnya', bahkan sampai meminta saya untuk menunjukkan 'tarian' itu pada mereka. Saya katakan bahwa itu adalah pertunjukkan spesial kemping. No. More.

Saat ini saya masih heran dengan kenekatan saya sendiri dalam melakukan pertunjukkan itu. Saya yang beberapa waktu lalu malu berat hanya karena dihukum nyanyi lagu Potong Bebek Angsa dengan huruf vokal 'a' (jadi Patang Babak Angsa) di suatu acara, kok ya bisa-bisanya menunjukkan 'tarian' "Shikat Miring!", depan murid-murid pula. Hahaha. ;p
Sebelumnya, saya belum pernah sekalipun se-ekspresif ini. Apa ini efek training #Xpressive yang terlambat?

Walaupun saya jelas-jelas masih merasa malu dan ketawa konyol kalau ada yang mengangkat topik itu ataupun teringat pertunjukan itu, tapi saya berpikir, kalau semua itu membuat saya sadar bahwa saya pun bisa se-ekspresif itu. Bukankah itu bagus? Bukankah itu artinya sebuah kemajuan, sebuah perubahan kecil yang nantinya akan berdampak besar? Who knows.


- Saya yang masih bertanya-tanya kenapa menuliskan cerita ini dan mempermalukan diri sendiri -
抜き猫

6.11.2013

Pro Kontra S2

Dag. Dig. Dug.
Harap-harap cemas aku membuka file Hasil Pengumuman S2

Yup, sebulan yang lalu aku mengikuti ujian seleksi masuk S2 jurusan Pendidikan Bahasa Jepang di UPI. Pilihan yang menimbulkan pro kontra.
Kenapa pro kontra?

Aku yang lulusan Pendidikan Ilmu Komputer jelas-jelas ngga nyambung sama Pendidikan Bahasa Jepang. Tapi ngambil kuliah Bahasa Jepang sudah jadi cita-citaku sejak masa SMP, lebih tepatnya akhir SMP.

Di luar dugaan, waktu aku mengutarakan keinginanku untuk mengikuti ujian masuk Bahasa Jepang ibuku setuju. Menurutnya lebih baik aku mengambil jurusan Bahasa Jepang (di UPI) ketimbang kuliah di luar kota (aku pernah berniat kuliah di Jogja) atau di Jepang (one of my dreams too).
Setelah melakukan penyelidikan melalui website Pascasarjana UPI dan interogasi bagian pendaftaran, dengan tekad aku mengisi pendaftaran.
Untuk menyerahkan formulir pendaftaran dibutuhkan rekomendasi dari dua orang dosen.
Saat meminta rekomendasi inilah timbul kontra.
Tentu jadi pertanyaan kenapa aku memilih Bahasa Jepang dan tidak melanjutkan ke jurusan yang berbau komputer atau mungkin pendidikan.
Bagaimanapun dulu aku diterima di Pendidikan Ilmu Komputer bisa dibilang 'nyasar'. (read this)
Waktu dipikir sekarang rasanya dulu agak menyesal juga tidak mencoba lagi SPMB ke jurusan Bahasa Jepang. *lupakan*
Karena alasan itulah, aku berpikir untuk tidak melanjutkan ke jurusan yang berbau komputer. Kayanya ngga dulu deeh.. Aku berpikir aku ngga mau menyesal lagi.
Kali ini aku akan mencoba masuk ke Bahasa Jepang. Sengaja mengisi hanya satu pilihan saja.
Meski ayahku menyarankan untuk mengisi pilihan kedua.
Aku bertahan pada pilihanku. Jawabannya, tidak.

Buatku keterima atau tidaknya aku di Bahasa Jepang kali ini menentukan banyak hal.
Karenanya aku berharap besar untuk keterima.
Jika keterima aku lebih memiliki rencana jelas untuk hidupku.
Jika tidak aku harus berpikir ulang mengenai rencana-rencana untuk hidupku.

Dag. Dig. Dug.
Aku mulai mencari deretan namaku di antara daftar pengumuman mahasiswa yang lolos seleksi.
Satu per satu baris nama kubaca. Sangat hati-hati.
Seakan namaku tak akan terbaca jika terlewat sekedip saja.
Semakin mendekati baris akhir aku semakin cemas.

Dan begitu baris terakhir terlewati, aku harus menerima kenyataan bahwa aku tidak diterima.

Tidak diterima.
Sesaat aku merasa bimbang.
Apa yang harus kulakukan setelah ini?

Kali ini pro kontra itu ada di dalam diriku sendiri.

Mungkin bukannya tidak tapi belum.

Belum diterima.
Aku akan mencoba lagi.
Bukankah terlalu cepat untuk menyerah?

Entah apa penyebab aku belum diterima kali ini. Manusia selalu punya rencana, berusaha untuk meraih keinginannya. Namun pada akhirnya Allah lah yang menentukan.
Rencana Allah selalu indah. Meski kini aku belum tahu apa yang direncanakanNya untukku.

Syukuri dan hadapi.
Life goes on. :)

抜き猫

6.02.2013

Vidi Aldiano, Dari Dekat


Kini terasa sungguh~
Semakin engkau jauh.., semakin terasa dekat~

Itulah sepotong lirik Nuansa Bening yang dinyanyikan oleh Vidi Aldiano.
Nuansa Bening inilah yang membuatku jatuh cinta sama suaranya.
Dan hari ini (1 Juni 2013), waktu denger langsung Vidi menyanyikan lagu Nuansa Bening di acara Puteri Maranatha 2013 aku tambah jatuh cinta aja... >.< (tidaaaaaaaaak~ suaranya jauh lebih keren daripada kalau denger di radio atau televisi). *Maklumlah baru sekali ini denger suaranya Vidi secara langsung.

Tak menyia-nyiakan kesempatan, langsung deh nyalain kamera, ganti ke mode video, rekam!
Berikut potongan video nya ^^ : (walau agak-agak nge blur sih)


Berhubung acara utamanya adalah Grand Final Puteri Maranatha 2013, aku jadi harap-harap cemas, menunggu kembali kehadiran Vidi Aldiano di atas panggung.
Menurut dugaanku kalau di acara semacam ini, seperti yang pernah aku lihat di tv, di akhir acara bintang tamu biasanya tampil lagi.

Akhirnya setelah pengumuman pemenang Puteri Maranatha 2013, sang MC memanggil kembali Vidi ke atas panggung. Alunan musik Gadis Genit pun mulai terdengar.., lalu suara Vidi mengalun merdu menggetarkan hati. ;)

Aku yang sudah cukup puas mendengar langsung suara Vidi, dikejutkan oleh ajakannya pada para penonton untuk maju ke depan saat ia menyanyikan lagu terakhir.
Pupus Kasih Tak Sampai.

Aku masih memegang kamera, berjalan semakin dekat sambil menghindari orang-orang yang berlalu lalang, semakin dekat berusaha merekam sosoknya diantara kerumunan orang-orang lain (cewek semua pastinya), semakin dekat hingga akhirnya dapat merekamnya dengan angle yang nyaman, semakin dekat sampai aku berpikir belum pernah sosoknya sedekat ini denganku. Wajahnya bahkan tepat berada di depanku (atau lebih tepatnya di depan lensa kamera yang kupegang).

Jantungku berdebar-debar, berteriak senang. Membuatku ingin bersorak.
Banzaiii~ Banzaiii~  o(^^)o \(^^)/ o(^^)o \(^^)/

Aku begitu menikmati lagu yang ia nyanyikan, hingga baris terakhir lirik terdengar.

Aku tak mengerti apa yang kurasa~

Ya, akupun tak mengerti apa yang kurasa.
Semua perasaanku bercampur hingga rasanya tak cukup diungkapkan dengan kata-kata. *nangis haru :')

抜き猫

4.09.2013

Karena Terbiasa...

Memang cinta itu datang karena terbiasa, itulah fitrahnya.  [@felixsiauw]

Awalnya terbiasa melihat
Lalu terbiasa bertemu
Jadi terbiasa berdekatan
Terus terbiasa mengobrol
Lama-lama terbiasa jalan bareng

Saat sendirian terbiasa membayangkannya
Mencari tahu tentangnya
Membaca tentangnya
Mendengar tentangnya
Tidak mengherankan bila perasaan itu semakin menguat.

Cinta datang tiba-tiba~ (siapa bilang?)
Orang Jawa bilang witing tresno jalaran soko kulino.
Ya itu tadi, cinta datang karena telah terbiasa.

Pada dasarnya, perasaan itu akan menguat bila diberi rangsangan secara terus-menerus, berkelanjutan. Kalau mau dibikin lemah bahkan dibikin hilang, ya jangan diberi rangsangan.
Sama kaya tanaman yang akan tumbuh dan berkembang jika diberi pupuk dan disirami, ia akan layu jika tidak diberi nutrisi (si pupuk dan si air tadi).

Kalau mau dihilangkan, ya Biasakan !!

Biasakan tidak jalan bareng
Biasakan tidak sering mengobrol
Biasakan tidak sering berdekatan
Biasakan tidak sering bertemu
Biasakan tidak sering melihat
(Apalagi kalo ga perlu-perlu amat)

Biasakan tidak mendengar tentangnya
Biasakan tidak membaca tentangnya
Biasakan tidak mencari tahu tentangnya
Biasakan tidak membayang-bayangkan sosoknya
(Masih banyak hal lain yang lebih bermanfaat kok :) )

Melepaskan perasaan itu bukanlah hal yang mudah, karena memang ada kenikmatan tersendiri saat tenggelam di dalamnya.

In the end, it's a choice.
Terus tenggelam dalam kegalauan atau keluar dari sana dan merasakan kenikmatan yang jauh lebih besar dengan melakukan hal-hal yang positif.


So, it's not being blue is another kind of beauty
but being lonely because of Allah is another kind of beauty. :')

抜き猫

4.06.2013

1st Exercise : Sense of Sight

Show, don't tell
Ini adalah aturan paling penting dalam mendeskripsikan sesuatu pada sebuah tulisan.
Berdasarkan aturan tersebut, maka minggu lalu kami berlatih menulis untuk mendeskripsikan suatu benda. Kebetulan, saat itu di hadapan kami bertebaran berbagai macam cemilan, akhirnya dipilihlah satu cemilan untuk kami deskripsikan bersama.
As we know, kita memiliki 5 jenis indra. Nah, yang kami latih pertama kali ini adalah indra penglihatan.
Karena itu, kami hanya boleh mendeskripsikan si cemilan tadi hanya berdasarkan apa yang kami lihat saja. Dan dalam waktu yang berlalu seperti sekejap mata, inilah tulisanku saat itu :

- - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - 

Warna hijaunya mengingatkan pada Hulk, tau kan si tokoh superhero berbadan besar itu? Berbeda dengan Hulk yang berubah jadi hijau karena suatu bahan kimia, warna hijau miliknya kemungkinan diakibatkan oleh pandan atau bisa juga oleh pewarna makanan (eh, tapi itu kan bahan kimia juga ya?). Bentuknya mirip balok (yang setelah diselidiki lebih lanjut, ternyata bentuknya silinder! Iya, silinder!) dengan lubang kecil memanjang di tengahnya.

Cemilan jenis apakah ia?
(ayo, tebak-tebak berhadiah ^^)

- - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - 

Karena waktunya yang memang sangat-sangat terbatas, dan aku yang waktu itu mikirnya emang rada lama, jadinya cuman segitu aja..
Minggu ini, rencananya kami akan melatih indra-indra yang lain. Afdolnya sih si cemilan itu hadir lagi di tengah-tengah kami, biar nulis deskripsinya makin mantap. *Bilang aja nagih :p. 

抜き猫

3.29.2013

Aku, Musik, dan Vidi Aldiano

Sejak dulu, aku tak punya ketertarikan khusus dengan musik.
Meskipun waktu kecil memang sering denger lagu-lagunya penyanyi cilik tahun 90an, itu juga karena ibuku yang membelikan kaset-kasetnya.
Tapi, semenjak SMP, aku dan musik berada di wilayah yang berbeda.
Jangan tanya soal lagu-lagu terkenal masa itu atau siapa penyanyi favoritku. Waktu zaman SMP aku bisa dibilang bukan anak gaul, kerjanya cuman belajar sama baca komik.. :p

Memasuki SMA, karena ketertarikanku dengan Jepang, aku jadi menyukai lagu-lagu Jepang, meski tetap saja ga punya artis favorit. Aku cuman seneng aja sama lagu-lagunya yang enak didengar. :)

Aku sendiri tak menyangka kalau akhirya bisa tertarik dengan seorang penyanyi secara personal.
Dan penyanyi itu adalah Vidi Aldiano. ^^
Sejak secara kebetulan melihat video clip Nuansa Bening di tv, entah gimana aku tertarik begitu saja. Suaranya langsung saja mengalihkan perhatianku..



Aku yang tadinya ga tertarik nonton acara musik jadi sering nonton acara musik buat dengerin Vidi nyanyi. Haha :D
Love his voice! >_<

抜き猫

About Me

My photo
cat lover, japan addict, spy girl, paparazzi, the nocturnal, plegmatis, book eater, newbie teacher, single happy, travel writer wannabe;